Anggota DPD RI Lia Istifhama Dorong Bioetanol, Energi Masa Depan Indonesia

Pamekasan, Minggu 5 April 2026 | News Satu- Upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil kian diarahkan pada pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menilai bioetanol dari tebu menjadi salah satu solusi strategis untuk mempercepat kemandirian energi nasional.

Hal itu disampaikan usai pertemuan dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, terungkap adanya pergeseran peran sektor tebu yang kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai bahan baku gula, tetapi juga mulai menjadi bagian penting dalam ekosistem energi hijau.

Menurut Lia, selama ini potensi tebu belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah hasil produksi berupa tetes (molasses) dapat diolah menjadi bioetanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan.

“Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis, bukan hanya untuk gula tetapi juga untuk energi,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Pengembangan bioetanol dinilai sangat potensial di Jawa Timur yang selama ini menjadi tulang punggung produksi gula nasional. Dengan kontribusi lebih dari 50 persen kebutuhan gula nasional, Jawa Timur dinilai memiliki kesiapan infrastruktur untuk menjadi pusat energi terbarukan berbasis tebu.

“Jika dimaksimalkan, Jawa Timur bisa bertransformasi dari lumbung gula menjadi pusat energi hijau nasional,” tegasnya.

Meski demikian, pengembangan bioetanol masih menghadapi tantangan utama, yakni biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil. Hal ini membuat daya saing bioetanol di pasar energi masih terbatas.

Untuk itu, Lia menekankan pentingnya kehadiran negara melalui kebijakan strategis seperti insentif, subsidi, serta regulasi yang mendukung pengembangan energi terbarukan.

“Negara harus hadir agar energi hijau ini bisa berkembang dan kompetitif,” pungkasnya.

Selain mendukung ketahanan energi, pengembangan bioetanol juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani tebu. Integrasi sektor pertanian dan energi diyakini mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat ekosistem pembangunan berkelanjutan di daerah.

Langkah ini dinilai sejalan dengan strategi nasional dalam memaksimalkan pemanfaatan sumber daya domestik guna mengurangi impor energi dan memperkuat kemandirian bangsa. (Kiki)