oleh

Inovasi Dan Keunikan Perusahaan Asuransi Syariah

News Satu, Kota Depok, Jumat 19 Mei 2017- Perusahaan Asuransi Syariah atau takaful berdasarkan DSN MUI No.21 merupakan sebuah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset atau tabarru’ yang mengembalikan pola pengendalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Tim redaksi newssatu.com  mendapatkan kiriman dari Tatin Suhartini, seorang Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (19/5/2017).

Asuransi syariah merupakan sebuah system dimana para peserta mendonasikan sebagian atau seluruh kontribusi/premi yang mereka bayar untuk digunakan membayar klaim atas musibah yang dialami oleh sebagian peserta. fitur utama takaful yang membedakannya dari konvensional asuransi adalah aplikasi dari konsep tabarru.

Pada dasarnya perusahaan asuransi syariah adalah berprisip tabarru atau takafuli saling membatu atau saling menanggung, namun seiring dengan perkembangan zaman dan inovasi dari sebuah uasaha atau bisnis maka saat ini perusahaan asurasnsi syariah-pun telah berinovasi menjadi sebuah perusahaan komersil yang tidak hanya dapat memanaje risiko para pesertanya namu mereka juga meluncurkan sebuah ide-ide yang brilian yang dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau laba.

Ada pun beberapa produk yang telah di luncurkan oleh perusahan asuransi yaitu:

  1. Model wakalah, Dalam model ini, operator takaful berhak untuk mencapai biaya pra disetujui berdasarkan prinsip wakalah merangkap sebagian dari surplus, yang disebut sebagai biaya kinerja.
  2. Model hybrid pada dasarnya dirumuskan dengan menggunakan kombinasi dari mudharabah dan wakalah atau kombinasi dari wakalah dan wakaf. kombinasi, kontrak mudharabah diterapkan untuk menunjukkan posisi operator takaful sebagai manajer dana investasi peserta, sementara kontrak wakalah digunakan untuk menujukkan posisi operator takaful sebagai peneriama amanah (wakil) dari penitipan dana peserta dan menanggung risiko
  3. Model Hybrid dari Wakalah dan Mudharabah

Dalam model ini memungkinkan setiap individu untuk saling membantu dalam hal bencana menggunakan dana wakaf. Menggunakan model ini, pemegang saham operator takaful awalnya menempatkan sumbangan dalam membangun dana wakaf. Secara bersamaan, peserta juga berkontribusi jumlah sumbangan untuk diletakkan di dana wakaf. Dalam hal ini, dana wakaf terdiri dari yakni dua sumber; pemegang saham “dana dan peserta” dana.

Kolam dana kemudian diinvestasikan dalam kegiatan usaha sesuai syariah. Jika salah satu peserta mengalami kemalangan, laba yang dihasilkan dari dana wakaf akan digunakan untuk membantu masing-masing peserta. Dan masih banyak produk-produk lainnya hasil inovasi perusahaan asuransi syariah.

Konsep tabarru diterapkan dalam takaful operasi untuk menunjukkan hubungan antara peserta Hal yang menarik dari asuransi syariah yaitu adanya surplus deficit underwriting yang dapat menjadi hak milik pengelola maupun peserta assuransi, berbeda halnya dengan asuransi konvensional dimana dana surplus deficit underwriting hanya diakui sebagai milik pengelola (perusahaan) saja.

Dalam permasalahan dana surplus deficit underwriting ada beberapa pandangan ulama terkait kebolehan dan larangan pembagian kepemilikan dana surplus underwriting.

  1. Memperlakukan surplus sebagai participants‟ eksklusif benar maka harus sepenuhnya dibagikan kepada mereka.
  2. Percaya dalam berbagi surplus underwriting antara peserta dan operator takaful, adapun Negara – Negara yang terlah mempraktikkannya yaitu Negara GCC kemudian hal tersebut dipraktikkan pula oleh beberapa perusahaan asuransi syariah yang ada di Malaysia.

Beberapa pandangan berbeda mengenai surpus deficit underwriting:

Pandangan pertama diadakan oleh standar AAOIFI dan IFSB serta beberapa resolusi internasional dan Fatwa.Dalam Fatawa Ta’min, Dallah al-barokah, 1986, itu menyatakan bahwa underwriting surplus hak eksklusif peserta dan dengan demikian itu harus dikembalikan kepada mereka. Takaful operator tidak memiliki hak atas menikmati sebagian dari surplus.

Namun Pandangan yang berlawanan yang ditegakkan oleh Dewan Penasihat Syariah Bank Negara Malaysia. Dinyatakan dalam resolusi (ref. tidak. 09/07/07) pada distribusi underwriting surplus yang: “Dewan Penasihat Syariah Bank Negara Malaysia (Council) telah membuat resolusi bahwa distribusi surplus dari tabarru ‘ dana dalam skema takaful diperbolehkan dari perspektif Syari’at. Resolusi Dewan dalam memungkinkan distribusi surplus dari tabarru ‘ dana (untuk rencana takaful keluarga dan umum) kepada pemegang peserta sertifikat dan takaful operator didasarkan pada premis bahwa kontrak takaful umumnya didirikan pada prinsip-prinsip Syariah tabarru’ (sumbangan) dan ta’awun (kerjasama), selain dari perjanjian antara para pihak.

Dalam perumusan produk takaful, prinsip tabarru’ telah prinsip utama yang mendasari syari’ah, meskipun penerapan prinsip-prinsip lain seperti wakalah dan mudharabah juga melengkapi struktur operasional takaful. Resolusi Dewan untuk mengijinkan distribusi tersebut juga didasarkan pada masalah biaya kinerja untuk perusahaan takaful”.

Dengan demikian, itu jelas bahwa AAOIFI pembenaran atas distribusi dari surplus bergantung pada asal-usul surplus sementara resolusi SAC BNM lokal pada sifat tabarru’ kontrak di mana peserta telah melepaskan setiap klaim atas apa yang telah mereka sudah menyumbangkan sebagai tabarru.

Pendapat Dewan Ulama Indonesia pada distribusi surplus mencoba untuk mengakomodasi praktek GCC dan Malaysia. Dewan Ulama Indonesia, 2006 Indonesia Ulama Dewan Fatwa no. 53/DSN-MUI/III/2006 takaful operator dapat mengobati surplus underwriting berdasarkan tiga pilihan di bawah ini:

  1. semua underwriting surplus ditempatkan ke dalam dana cadangan.
  2. Underwriting surplus terbagi menjadi dua bagian: satu bagian untuk cadangan dan bagian lainnya untuk peserta.
  3. Persentase tertentu dialokasikan untuk cadangan. Sisanya dibagi antara peserta dan takaful operator. Namun, adalah tunduk pada persetujuan dari para peserta.

Saran penulis: meskipun pada dasarnya perusahaan asuransi syariah bukanlah merupakan perusahaan yang bersifat komersil (mencari laba atau keuntungan), namun tidak ada salahnya perusahaan asuransi syariah berinovasi dengan produk-produk barunya, sehingga menghasilkan laba selama cara-cara yang di tempuh dalam menciptkan laba tersebut tidak boleh bertentangan dengan prisip syariat islam dan menghilangkan unsur tabarru’ dalam perusahaan tersebut. (Redaksi News)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.