Jakarta, Kamis 29 Januari 2026 | News Satu- Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong penguatan integrasi destinasi Labuan Bajo dan Jawa Timur dalam satu paket pariwisata nasional. Integrasi lintas wilayah ini dinilai menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia sekaligus memperluas dampak ekonomi ke daerah.
Dorongan tersebut disampaikan Lia Istifhama saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta. Dalam kunjungan itu, Lia berdialog dengan Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono, membahas pengembangan destinasi berbasis kawasan terintegrasi serta penguatan konektivitas antardaerah.
Pembahasan difokuskan pada peluang pengemasan lintas destinasi unggulan nasional, khususnya menghubungkan Labuan Bajo dengan kawasan wisata prioritas di Jawa Timur seperti Bromo–Tengger–Semeru (BTS). Skema integrasi ini diyakini mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan serta meningkatkan perputaran ekonomi pariwisata.
Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf, Dwi Marhen Yono, menjelaskan pemerintah saat ini tengah mengembangkan kawasan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) seluas sekitar 400 hektare sebagai kawasan pariwisata darat terintegrasi. Pengembangan ini dilakukan untuk melengkapi wisata bahari Labuan Bajo yang selama ini masih mendominasi kunjungan wisatawan.
“Selama ini sekitar 82 persen aktivitas wisatawan di Labuan Bajo masih didominasi island hopping, sementara wisata darat baru sekitar 18 persen. Melalui kawasan otorita, kami menargetkan keseimbangan aktivitas wisata dalam 10 tahun ke depan agar dampak ekonomi pariwisata semakin luas,” ujar Dwi Marhen, Kamis (29/1/2025).
Ia menegaskan pengembangan kawasan BPOLBF dilakukan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Dari total luasan kawasan, hanya 20 persen lahan yang dimanfaatkan, sedangkan 80 persen lainnya dipertahankan sebagai kawasan hijau dan hutan konservasi. Seluruh vegetasi telah diinventarisasi guna memastikan pembangunan tidak merusak ekosistem.
Dalam pertemuan tersebut, Lia Istifhama menekankan pentingnya sinergi dan konektivitas antardaerah sebagai fondasi penguatan ekosistem pariwisata nasional. Menurutnya, integrasi Labuan Bajo dan Jawa Timur bukan sekadar pengemasan destinasi wisata, melainkan strategi pemerataan ekonomi berbasis kawasan.
“Integrasi Labuan Bajo dan Jawa Timur bukan hanya soal paket wisata, tetapi langkah strategis untuk pemerataan ekonomi pariwisata agar manfaatnya dirasakan lebih luas oleh daerah,” tegas Lia.
Sementara itu, Dwi Marhen Yono mantan Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF dan eks Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai hub pariwisata nasional. Integrasi lintas wilayah, kata dia, sejalan dengan kebijakan quality tourism yang tengah dikembangkan Kemenparekraf.
Saat ini, rata-rata belanja wisatawan mancanegara tercatat sekitar USD 1.300 dan ditargetkan meningkat menjadi USD 2.000 pada 2030. Peningkatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (Kiki)






