Jakarta, Sabtu 17 Januari 2026 | News Satu- Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menjadi sorotan publik setelah Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin mempertanyakan kejelasan gelar akademik yang disandang Senator asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H., S.H.I., M.E.I.
Pertanyaan tersebut mencuat dalam forum resmi saat pimpinan sidang menyinggung sejumlah gelar yang melekat pada Ning Lia sapaan akrab Lia Istifhama yang dinilai perlu diperjelas secara terbuka di hadapan anggota dewan.
“Yang belum jelas dari pimpinan ini gelar S.H.I dan M.E.I nanti diperjelas, Bu. Kata teman-teman diperjelas,” ujar Sultan Bachtiar Najamudin dalam sidang paripurna.
Menanggapi hal itu, Lia Istifhama langsung memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa perjalanan akademiknya ditempuh melalui jalur pendidikan multidisiplin sejak jenjang sarjana hingga doktoral.
“Saya waktu S1 kuliah di tiga tempat, lalu melanjutkan pendidikan magister ekonomi Islam dan doktoral ekonomi Islam,” jelas Lia, Sabtu (17/1/2026).
Fakta tersebut mengungkap bahwa sejak jenjang sarjana, Lia Istifhama menempuh pendidikan di tiga perguruan tinggi hampir bersamaan. Ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Program Studi Sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), serta Program Studi Hukum Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taruna Surabaya.
Lia diterima di Universitas Airlangga melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), yang kini dikenal sebagai Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Dalam periode yang sama, ia juga diterima di UINSA yang kala itu masih berada di bawah Kementerian Agama. Sementara pada malam hari, Lia mengikuti perkuliahan di STAI Taruna Surabaya.
Ketekunan akademik tersebut membuat Lia mengantongi gelar lintas disiplin, sebuah capaian yang relatif jarang ditemui. Di tengah padatnya jadwal kuliah, ia juga diketahui aktif bekerja sebagai pengajar kursus privat.
Rekam jejak akademik Lia Istifhama dibenarkan oleh Hery Prasetyo, rekan satu angkatannya di Program Studi Sosiologi Universitas Airlangga tahun 2002. Hery yang kini menempuh pendidikan doktoral di University of Sydney, Australia, menyebut Lia dikenal aktif dan menonjol dalam diskusi akademik.
“Lia sangat aktif di Sosiologi. Dalam beberapa kuliah lapangan, saya justru banyak belajar dari dia,” ujar Hery.
Menurut Hery, latar belakang Lia sebagai warga Nahdliyin dengan perhatian kuat pada isu ekonomi mikro, masyarakat miskin kota, dan kelompok marginal membuat perspektif akademiknya kaya dan berbeda.
Hal senada disampaikan Arifulinnuha, rekan kampus Lia di Fakultas Syariah UINSA. Ia menyebut Lia dikenal sangat aktif meski harus membagi waktu di beberapa kampus sekaligus.
“Kesibukannya luar biasa, tapi Lia tetap aktif dan fokus pada akademik,” kata Arif.
Penjelasan terbuka di forum paripurna tersebut sekaligus menjawab rasa penasaran pimpinan dan publik. Gelar akademik yang disandang Lia Istifhama bukan sekadar titel, melainkan hasil perjalanan intelektual panjang yang kini menjadi modal penting dalam menjalankan tugas sebagai senator dan wakil daerah di Senayan. (Kiki)






