Jakarta, Kamis 29 Januari 2026 | News Satu- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan langkah strategis pemerintah menjadikan sektor pertanian sebagai mesin utama pengembangan energi hijau nasional. Komitmen itu disampaikan usai Amran resmi dilantik sebagai anggota Dewan Energi Nasional (DEN) oleh Presiden Prabowo Subianto.
Amran menilai, potensi besar sektor pertanian selama ini belum dimaksimalkan untuk menopang ketahanan energi nasional. Padahal, Indonesia memiliki kekuatan sumber daya hayati yang mampu menjadi fondasi transisi energi berkelanjutan berbasis komoditas lokal.
“Insyaallah ke depan kita akan mengoptimalkan energi hijau dari sektor pertanian. Potensinya sangat besar, mulai dari singkong, kelapa sawit (CPO), tebu, hingga berbagai komoditas lainnya,” ujar Amran, Kamis (29/1/2026).
Sebagai negara agraris, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama bioenergi dunia. Komoditas pertanian tidak hanya berperan sebagai penopang pangan, tetapi juga mampu mendorong kemandirian energi sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.
Saat ini, kelapa sawit dan tebu telah menjadi tulang punggung biofuel nasional. Pemerintah pun bersiap membuka babak baru dengan mendorong singkong sebagai sumber energi alternatif yang potensinya tersebar luas di berbagai daerah.
“Sawit dan tebu sudah berjalan. Selanjutnya kita dorong singkong. Ini potensi besar yang kita miliki,” tegasnya.
Amran juga menekankan penguatan kebijakan mandatori biodiesel, termasuk implementasi B50. Kebijakan ini ditargetkan mampu menekan ketergantungan impor bahan bakar fosil secara signifikan, bahkan menghentikan impor solar.
“Insyaallah, sesuai hasil koordinasi, tahun ini kita tidak impor lagi solar karena kita sudah masuk B50,” ungkapnya.
Dengan bergabungnya Mentan Amran dalam Dewan Energi Nasional, pemerintah berharap sinergi sektor pertanian dan energi semakin solid. Kementerian Pertanian pun akan memperkuat program hilirisasi dan pengembangan komoditas energi, termasuk perluasan budidaya tanaman penghasil biofuel yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Langkah ini diyakini mampu menciptakan nilai tambah bagi petani, meningkatkan daya saing nasional, serta mempercepat terwujudnya kedaulatan energi dan pembangunan hijau yang berkelanjutan. (Den)






