593

Titiek Soeharto Ungkap Fakta Mengejutkan, 80 Persen Kebutuhan Susu Indonesia Masih Impor

News Satu
Titiek Soeharto Ungkap Fakta Mengejutkan, 80 Persen Kebutuhan Susu Indonesia Masih Impor

Jakarta, Rabu 30 September 2026 | News Satu- Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menegaskan pentingnya percepatan penguatan produksi susu lokal untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu. Saat ini, produksi susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, sementara sisanya masih dipenuhi dari impor.

Pernyataan tersebut disampaikan Titiek saat melakukan kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Menurut Titiek, impor susu masih menjadi langkah yang tidak dapat dihindari selama produksi lokal belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat, khususnya untuk mendukung pemenuhan gizi dan kebutuhan susu anak-anak. Namun demikian, kebijakan impor harus tetap dibatasi agar tidak melemahkan posisi peternak sapi perah dalam negeri.

“Semua pihak tentu menginginkan produksi susu berasal dari dalam negeri. Namun selama kebutuhan belum terpenuhi, impor masih diperlukan. Meski begitu, impor harus dibatasi agar peternak lokal tetap terlindungi,” ujar Titiek, Rabu (30/9/2026).

Ia menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap susu impor yang dinilai tidak bisa terus berlangsung dalam jangka panjang. Menurutnya, peningkatan produksi susu nasional harus menjadi prioritas untuk mewujudkan kemandirian pangan sektor peternakan.

“Produksi nasional saat ini hanya sekitar 20 persen dari kebutuhan. Sisanya masih bergantung pada impor. Kondisi ini harus segera diperbaiki,” tegasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andriko Noto Susanto, menjelaskan bahwa susu merupakan salah satu sumber protein hewani penting bagi masyarakat. Meski demikian, kebutuhan protein nasional saat ini masih banyak ditopang oleh ikan, daging ayam, telur, dan daging ruminansia.

Menurut Andriko, Indonesia sebenarnya telah mencapai swasembada protein dari berbagai sumber pangan hewani. Namun, peningkatan produksi susu tetap diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan memperluas pilihan sumber protein masyarakat.

Ia juga menyoroti potensi pengembangan sapi perah Grati, varietas unggulan hasil persilangan yang dikembangkan di dalam negeri. Sapi tersebut dinilai memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan lokal serta produktivitas susu yang kompetitif.

“Sapi perah Grati merupakan salah satu hasil pengembangan peternakan nasional yang memiliki kemampuan adaptasi sangat baik dan produktivitas tinggi,” kata Andriko.

Berdasarkan data yang disampaikan, sapi perah Grati mampu menghasilkan hingga 30 liter susu per ekor setiap hari. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pasokan susu nasional melalui penguatan bibit unggul dan peningkatan produktivitas peternak.

Di sisi lain, Bupati Pasuruan Mochamad Rusdi Sutejo menyebut Kabupaten Pasuruan saat ini menjadi sentra produksi susu terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Malang.

Kabupaten Pasuruan tercatat memiliki populasi sekitar 96.332 ekor sapi perah dengan total produksi susu mencapai 295 ton per hari. Angka tersebut menjadikan Pasuruan sebagai salah satu daerah strategis dalam mendukung peningkatan produksi susu nasional.

“Pasuruan saat ini menjadi penghasil susu terbesar kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Malang. Populasi sapi perah kami mencapai lebih dari 96 ribu ekor,” ujar Rusdi.

Salah satu penopang utama produksi susu di wilayah tersebut adalah KUTT Suka Makmur Grati, koperasi peternak yang telah berdiri sejak 1968. Koperasi ini menaungi sekitar 1.600 anggota aktif, dengan populasi mencapai 8.700 ekor sapi perah dan kapasitas produksi sekitar 30 hingga 35 ton susu segar per hari.

Keberadaan koperasi dan peternak lokal dinilai menjadi aset penting dalam upaya memperkuat industri susu nasional. Pemerintah dan DPR RI berharap peningkatan produktivitas, penguatan bibit unggul, serta perlindungan terhadap peternak dapat mempercepat target swasembada susu dan mengurangi ketergantungan terhadap impor di masa mendatang. (Den)