TNI Gugur Di Lebanon, Said Abdullah Desak PBB Bertindak Tegas

Jakarta, Jumat 3 April 2026 | News Satu- Ketegangan konflik di Timur Tengah kembali memakan korban. Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur akibat serangan yang diduga dilakukan oleh militer Israel di wilayah Lebanon.

Menanggapi insiden tersebut, Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah, menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Politisi Senior PDI Perjuangan ini menilai, serangan terhadap personel UNIFIL bukan hanya pelanggaran serius, tetapi juga mencerminkan lemahnya penegakan hukum internasional.

“Serangan terhadap pasukan perdamaian menunjukkan seolah ada pihak yang merasa kebal terhadap hukum internasional,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).

Said mengungkapkan, sejak Oktober 2024, tercatat puluhan serangan terhadap fasilitas dan pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. Ia menyebut kondisi ini sebagai indikasi adanya impunitas yang terus dibiarkan oleh komunitas global.

Menurutnya, situasi tersebut tidak bisa dilepaskan dari konflik berkepanjangan di kawasan Gaza, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Tragedi ini bukan kejadian tunggal, melainkan rangkaian peristiwa yang terus berulang tanpa penanganan serius,” ujarnya.

Said mendesak Dewan Keamanan PBB dan lembaga internasional lainnya segera mengambil langkah konkret. Ia bahkan mengusulkan agar kasus ini dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Menurutnya, tindakan yang menyebabkan gugurnya prajurit TNI berpotensi masuk dalam kategori pelanggaran berat, seperti kejahatan perang hingga kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, ia meminta pihak yang bertanggung jawab untuk:

1. Mengakui serangan secara terbuka
2. Menyampaikan permintaan maaf resmi di forum PBB
3. Bersedia menjalani proses hukum internasional

Lebih jauh, Ketua Banggar DPR RI ini mendorong negara-negara dunia meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Israel. Said mencontohkan sejumlah negara Eropa yang mulai mengambil langkah tegas, termasuk penarikan duta besar hingga penghentian penjualan senjata.

Ia juga menyinggung dukungan mayoritas negara anggota PBB terhadap solusi dua negara bagi Palestina dan Israel sebagai jalan menuju perdamaian.

“Tanpa langkah nyata, konflik ini akan terus bereskalasi dan mengancam stabilitas global,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Said menegaskan bahwa insiden ini menjadi ujian serius bagi kredibilitas PBB sebagai penjaga perdamaian dunia.

“Ini bukan hanya soal Indonesia kehilangan prajurit terbaik, tetapi juga soal apakah sistem internasional masih mampu menegakkan keadilan,” pungkasnya. (Den)