Probolinggo, Sabtu 8 Agustus 2026 | News Satu- Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah pola interaksi masyarakat, upaya pelestarian seni dan budaya lokal kembali mendapat ruang dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya terlihat dalam Karnaval Seni Budaya Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, yang digelar Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pagelaran Seni Kota Probolinggo yang diselenggarakan untuk memperkuat semangat nasionalisme sekaligus menjaga keberlangsungan warisan budaya di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer yang terus berkembang.
Acara dihadiri Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin, bersama Camat Kanigaran dan Lurah Kebonsari Wetan. Kehadiran unsur pemerintah daerah menunjukkan dukungan terhadap berbagai kegiatan berbasis budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
Dari puluhan peserta yang tampil, perhatian pengunjung tertuju pada kelompok Emak-Emak Gemoy RT 01 RW 02. Kelompok tersebut menampilkan tarian kontemporer dengan mengusung tema “Lestarikan Seni Budaya di Era Digital”, yang dinilai relevan dengan tantangan pelestarian budaya di era modern.
Penampilan mereka memadukan unsur hiburan dengan pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah masifnya perkembangan teknologi informasi dan media digital.
Salah satu pengunjung, Yayuk, mengaku terkesan dengan kekompakan kelompok tersebut saat membawakan pertunjukan.
“Kelompok emak-emak ini sangat kompak dan serasi dengan lantunan irama musiknya,” ujarnya.
Meski cuaca panas menyelimuti lokasi kegiatan, para peserta tetap tampil penuh semangat. Antusiasme warga yang memadati area karnaval juga menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan seni dan budaya yang dikemas secara kreatif dan inklusif.
Pemerintah dan masyarakat berharap kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan, tetapi juga mampu memperkuat rasa cinta tanah air, mempererat kebersamaan warga, serta menjadi sarana pelestarian budaya lokal bagi generasi muda.
Di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi, ruang-ruang budaya berbasis komunitas dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman budaya Indonesia agar tetap hidup dan berkembang di masa depan. (Bambang)






