387

Festival Budaya Inklusi Kota Probolinggo Jadi Panggung Besar Kreativitas Penyandang Disabilitas

News Satu
Festival Budaya Inklusi Kota Probolinggo Jadi Panggung Besar Kreativitas Penyandang Disabilitas
Festival Budaya Inklusi Kota Probolinggo Jadi Panggung Besar Kreativitas Penyandang Disabilitas

Probolinggo, Minggu 16 Agustus 2026 | News Satu- Di tengah upaya memperkuat pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, Pemerintah Kota Probolinggo menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum untuk memperluas ruang partisipasi penyandang disabilitas. Melalui Festival Budaya Inklusi 2026, pemerintah daerah menegaskan komitmennya dalam mendorong kesetaraan, pemberdayaan ekonomi, serta pengembangan potensi kelompok difabel.

Kegiatan yang digelar di halaman Kantor Wali Kota Probolinggo, Minggu (16/8/2026), itu menghadirkan puluhan penampilan seni dan kreativitas dari komunitas penyandang disabilitas serta pameran produk UMKM yang dikelola kelompok difabel.

Festival yang diinisiasi oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kota Probolinggo tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi pembangunan inklusif yang tidak hanya berfokus pada akses layanan publik, tetapi juga pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat disabilitas.

Kepala Dinsos PPPA Kota Probolinggo, Siti Romlah, mengatakan festival tersebut dirancang untuk memberikan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas dalam mengekspresikan bakat, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki.

Menurutnya, penyandang disabilitas harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin teman-teman disabilitas dapat mengambil peran yang sama dengan penuh rasa bangga dan percaya diri. Festival ini menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.

Sebanyak 34 penampilan seni dan kreativitas dari berbagai komunitas difabel tampil dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi ajang ekspresi, festival juga memberikan apresiasi kepada peserta dengan penampilan terbaik sebagai bentuk penghargaan atas karya dan dedikasi mereka.

Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, festival juga menghadirkan stand UMKM yang dikelola penyandang disabilitas. Produk-produk yang dipamerkan menjadi bukti bahwa kelompok difabel memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam sektor ekonomi apabila diberikan akses dan kesempatan yang memadai.

Berbagai organisasi dan komunitas penyandang disabilitas turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kelompok Difabel Kelurahan (KDK), Forum Disabilitas, HWDI, Pertuni, Gerkatin, Y-AMI, DMI, NPC Probolinggo, hingga Paguyuban Disabilitas Mandiri.

Mengusung tema “Bersama, Berkarya, Setara dan Maju”, festival ini sekaligus menjadi pesan bahwa pembangunan daerah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai festival budaya inklusi merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat bekerja bersama dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas.

“Teman-teman disabilitas memiliki peran aktif dalam pembangunan daerah. Kegiatan ini menunjukkan bahwa mereka mampu berkontribusi, berkarya, dan mengembangkan potensi yang dimiliki jika diberikan ruang yang memadai,” ujarnya.

Menurut Aminuddin, pemerintah daerah akan terus memperluas akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga pelayanan publik.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mendukung produk UMKM yang dikelola kelompok difabel sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi inklusif dan meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas.

“Dukungan masyarakat terhadap produk UMKM disabilitas merupakan bentuk nyata pemberdayaan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperluas kesempatan bagi mereka untuk berkembang,” katanya.

Festival Budaya Inklusi 2026 menjadi refleksi bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dan berkembang.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat, Kota Probolinggo berupaya memperkuat posisinya sebagai daerah yang ramah disabilitas serta mendukung terwujudnya pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. (Bambang)