Konser Bayuangga Picu Polemik, Pedagang Kecil Kehilangan Nafkah Harian

Probolinggo, Sabtu 13 Juni 2026 | News Satu- Konser musik yang akan digelar di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Sabtu (13/6/2026) malam, tidak hanya menyedot perhatian ribuan penonton dan memicu kepadatan lalu lintas di kawasan Jalan Panjaitan.

Di balik kemeriahan acara tersebut, muncul polemik yang melibatkan pelaku usaha mikro di sekitar stadion yang mengaku kehilangan penghasilan akibat kebijakan sterilisasi lokasi konser.

Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di sekitar Jalan Kaca Piring dan kawasan Stadion Bayuangga mengaku diminta menghentikan aktivitas usaha serta mengosongkan lapak sejak Jumat (12/6/2026) sore. Kebijakan itu diberlakukan untuk mendukung kelancaran, keamanan, dan pengaturan arus pengunjung selama konser berlangsung.

Namun, keputusan tersebut menuai keberatan dari sejumlah pedagang. Mereka menilai kebijakan sterilisasi dilakukan tanpa mempertimbangkan jam operasional usaha yang selama ini berlangsung pada pagi hingga sore hari, jauh sebelum konser dimulai.

Salah satu pedagang bakso, Sam, mengungkapkan dirinya bersama enam pedagang lainnya terpaksa menghentikan aktivitas usaha meski tidak berjualan pada malam hari. Menurutnya, para pedagang hanya beroperasi mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Karena itu, mereka mempertanyakan alasan pelarangan berjualan yang diberlakukan sejak sehari sebelum konser.

“Kami hanya berjualan sampai sore. Saat konser berlangsung malam hari, kami sudah tutup. Karena itu kebijakan ini sangat berdampak terhadap pendapatan harian kami,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Sam juga menegaskan bahwa usahanya memiliki legalitas resmi sebagai pelaku UMKM Kota Probolinggo. Meski demikian, status tersebut tidak membuatnya masuk dalam daftar penerima kompensasi yang disiapkan menjelang pelaksanaan konser.

Persoalan semakin berkembang setelah muncul informasi bahwa kompensasi hanya diberikan kepada pedagang yang terdaftar dalam paguyuban tertentu. Sementara sejumlah PKL mandiri yang selama ini berjualan secara legal namun tidak lagi tergabung dalam paguyuban disebut tidak menerima penggantian kerugian.

“Kami sama-sama terdampak, tetapi tidak mendapat kompensasi karena tidak masuk dalam paguyuban. Padahal usaha kami resmi dan memiliki dokumen yang sah,” keluhnya.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan di kalangan pelaku UMKM yang merasa mengalami perlakuan berbeda dalam proses pendataan penerima kompensasi.

Menanggapi hal itu, perwakilan Event Organizer (EO), Rangga, menjelaskan bahwa proses kompensasi dilakukan berdasarkan data yang disampaikan paguyuban serta tim pengondisian lapangan. Menurutnya, seluruh anggaran kompensasi telah disalurkan sesuai daftar penerima yang diajukan sebelumnya.

“Kami bekerja berdasarkan data yang masuk dari paguyuban. Jika tidak tercantum dalam daftar, maka belum masuk dalam data penerima kompensasi,” kata Rangga.

Ia juga membantah adanya instruksi penutupan total terhadap aktivitas pedagang. Menurutnya, kebijakan yang diberlakukan hanya berupa penggeseran sementara lapak dari area utama konser demi menjaga ketertiban dan keamanan.

Meski demikian, hingga berita ini ditulis, petugas lapangan yang disebut menangani pendataan pedagang belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi lebih lanjut terkait polemik tersebut.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Probolinggo, Angga Budi Pramudya, membenarkan adanya kebijakan sterilisasi di kawasan Stadion Bayuangga selama pelaksanaan konser.

Menurutnya, area depan dan samping stadion wajib dikosongkan agar arus keluar masuk penonton dapat berlangsung aman dan tertib.

“Sterilisasi hanya dilakukan selama satu hari penuh pada saat pelaksanaan konser. Area yang harus steril mencakup bagian depan dan samping stadion,” tegas Angga.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Probolinggo, Muhammad Abas, juga menyampaikan bahwa lokasi konser harus steril mulai pukul 12.00 WIB pada hari pelaksanaan acara.

Namun, setelah menerima laporan mengenai tujuh pedagang mandiri yang belum memperoleh kompensasi, pihaknya berjanji segera melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait.

“Kami akan melakukan koordinasi untuk memastikan persoalan ini mendapat solusi yang terbaik bagi semua pihak,” ujar Abas.

Hingga Sabtu malam, polemik kompensasi masih menjadi pembahasan di kalangan pelaku UMKM sekitar Stadion Bayuangga. Sebagai bentuk protes dan solidaritas, sejumlah pedagang memilih tidak berjualan hingga seluruh rangkaian kegiatan konser selesai dilaksanakan. (Bambang)