Lomba Patrol Di Kota Probolinggo Jadi Benteng Tradisi Di Era Digital

Probolinggo, Rabu 4 Maret 2026 | News Satu- Di tengah derasnya arus hiburan digital dan dominasi budaya populer, dentuman musik patrol justru menggema lantang di Kota Probolinggo. Lomba musik patrol yang digelar Pemerintah Kota Probolinggo pada 1–3 Maret 2026 di GOR Ahmad Yani (Sentra Kuliner) menjadi simbol perlawanan budaya lokal agar tak tergilas zaman.

Ajang ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan. Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, memasukkan lomba patrol sebagai bagian dari program ambisius 100 event per tahun. Namun lebih dari sekadar target event, kegiatan ini diarahkan untuk menjaga eksistensi kesenian tradisional di tengah gempuran modernisasi.

Realitas hari ini menunjukkan generasi muda lebih akrab dengan layar ponsel dibanding alat musik tradisional. Musik modern, media sosial, hingga platform digital menghadirkan hiburan instan yang perlahan menggeser budaya lokal.

Lomba patrol hadir sebagai panggung pembuktian bahwa tradisi tidak mati. Sebaliknya, ia bisa tampil atraktif, kreatif, dan tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. Event Organizer dari Tropis Media Plan, Elok Hanifah, menegaskan bahwa regenerasi menjadi kunci utama.

“Harapan mendasar kami agar kesenian tradisional tidak luntur ditelan zaman. Di tengah gempuran musik modern dan gadget, lomba ini menjadi wadah generasi muda untuk tetap mencintai dan mengembangkan budaya sendiri,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Sebanyak delapan grup dari Probolinggo Raya tampil dengan aransemen dan koreografi yang variatif. Mereka tak hanya memainkan kentongan dan instrumen patrol, tetapi juga memadukan kreativitas panggung dengan energi anak muda.

Penilaian dilakukan oleh dewan juri Ustaz Faiz dan Ustaz Saihu dengan tiga aspek utama: musikalitas, kreativitas, dan penampilan. Artinya, inovasi tetap didorong, namun pakem tradisi tidak boleh ditinggalkan.

Dari kompetisi tersebut, grup Lanceng Sonar keluar sebagai Juara 1, disusul Cokro Budoyo di posisi kedua dan Muhibbil Mustofa di peringkat ketiga. Kemenangan terbesar dari ajang ini bukan semata soal trofi. Lomba patrol menjadi ruang hidup bagi tradisi yang nyaris terpinggirkan.

Jika digelar secara konsisten, event seperti ini berpotensi membangun kebanggaan lokal sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Probolinggo. Di tengah modernitas, kota ini menunjukkan bahwa akar tradisi tetap dijaga, bukan sekadar dikenang. Dentum patrol di GOR Ahmad Yani bukan hanya suara musik. Ia adalah pernyataan: tradisi masih berdiri, dan siap bersaing di era digital. (Bambang)