Probolinggo, 2 Maret 2026 | News Satu- Program unggulan Pemerintah Kota Probolinggo bertajuk “Kota Probolinggo Bersolek” terus digenjot sebagai wajah baru pembangunan daerah. Namun, di balik geliat revitalisasi pusat kota, muncul kritik dari Fraksi PKB DPRD Kota Probolinggo yang menilai pembangunan belum menyentuh wilayah pinggiran.
Sorotan itu mencuat dalam forum Reses Masa Persidangan II Tahun 2026. Anggota DPRD Kota Probolinggo dari Fraksi PKB, Abdul Mujib, secara terbuka mempertanyakan pemerataan pembangunan infrastruktur yang dinilai masih terpusat di kawasan utara atau jantung kota.
“Pembangunan infrastruktur saat ini hanya terlihat di wilayah utara. Sementara wilayah selatan seperti Kecamatan Wonoasih yang berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo, belum mendapatkan sentuhan pembangunan yang signifikan,” tegas Abdul Mujib saat reses di Kantor DPC PKB Kota Probolinggo, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, sejumlah proyek strategis yang tengah dan akan dikerjakan Pemkot Probolinggo meliputi revitalisasi Alun-Alun Kota, Jalan Soekarno-Hatta – Jalan Panglima Sudirman, GOR A. Yani, Pasar Baru, Gladser, serta rencana penataan Jalan Cokroaminoto dan Masjid Agung Raudhatul Jannah.
Proyek-proyek tersebut dinilai mempercantik wajah pusat kota. Namun, legislator PKB menilai konsep “bersolek” seharusnya tidak hanya memperindah etalase kota, tetapi juga memperkuat infrastruktur dasar di wilayah selatan dan daerah pemukiman padat. Nada serupa disampaikan Nur Hudana, anggota DPRD dari PKB, saat menggelar reses di Ponpes Al Mutaalimin. Ia menilai wilayah daerah pemilihannya di Kecamatan Kedopok belum merasakan dampak langsung program prioritas wali kota tersebut.
“Program Kota Probolinggo Bersolek memang menjadi prioritas. Namun untuk wilayah dapil saya di Kecamatan Kedopok, tahun ini belum ada pembangunan infrastruktur yang signifikan. Semuanya masih terfokus di wilayah utara,” ujarnya.
Kritik ini menjadi catatan penting bagi Pemkot Probolinggo agar pembangunan tidak hanya bersifat kosmetik di pusat kota, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah pinggiran. Program “Kota Probolinggo Bersolek” diharapkan mampu menghadirkan pembangunan yang inklusif dan merata, sehingga manfaatnya dirasakan seluruh warga tanpa terkecuali.
Isu pemerataan ini pun diprediksi akan menjadi perhatian publik, mengingat pembangunan infrastruktur berkaitan langsung dengan akses ekonomi, mobilitas warga, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat. (Bambang)






