Tak Sekadar Janji, Pemkot Probolinggo Gerak Cepat Bantu Keluarga Duka

Probolinggo, Sabtu 28 Maret 2026 | News Satu- Pemerintah Kota Probolinggo menegaskan komitmennya dalam memperkuat jaring pengaman sosial melalui program santunan kematian yang menyasar langsung warga terdampak.

Program ini dijalankan lewat roadshow yang dipimpin Wali Kota Aminuddin bersama Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari sebagai bagian dari evaluasi satu tahun kinerja kepemimpinan mereka.

Kunjungan dimulai dari rumah almarhum Supriadi (42) di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Kebonsari Wetan. Dalam agenda tersebut, pemerintah menyerahkan santunan sebesar Rp750 ribu kepada ahli waris, sekaligus memperbarui dokumen administrasi kependudukan keluarga.

Istri almarhum, Devi (38), mengungkapkan kondisi ekonomi keluarganya yang kini harus menopang tiga anak, dua di antaranya masih balita. Ia berharap adanya dukungan lanjutan untuk mengembangkan usaha laundry kecil yang menjadi sumber penghasilan keluarga.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Aminuddin tidak hanya memberikan santunan, tetapi juga menawarkan solusi konkret berupa akses pendidikan gratis melalui program Sekolah Rakyat serta bantuan penguatan usaha ekonomi keluarga.

“Anak-anak bisa mendapatkan pendidikan gratis dengan fasilitas lengkap. Selain itu, kami dorong bantuan alat usaha agar keluarga tetap bisa mandiri,” ujar Aminuddin, Sabtu (28/3/2026).

Program santunan ini tidak berhenti di satu titik. Rombongan juga melanjutkan kunjungan ke rumah warga lainnya di Kelurahan Kebonsari Kulon dan Mangunharjo, memastikan bantuan sosial tersalurkan merata.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa Pemkot Probolinggo tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memperkuat pendekatan sosial berbasis kebutuhan riil masyarakat. Kehadiran langsung kepala daerah di tengah warga dinilai sebagai upaya mempercepat respons kebijakan sekaligus menyerap aspirasi secara langsung.

Program ini diharapkan menjadi model pelayanan sosial yang lebih responsif, terutama bagi keluarga rentan yang terdampak kondisi ekonomi dan kehilangan tulang punggung keluarga. (Bambang)