oleh

Daerah Penghasil Migas, Angka Pengangguran Di Sumenep Capai 200 Ribu Orang

News Satu, Sumenep, Rabu 3 Mei 2017- Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim) merupakan sebuah daerah penghasil Migas di pulau garam ini. Namun demikian meski menjadi daerah penghasil Migas, ternyata tidak menjamin kesejahteraan masyarakatnya dan angka penganggurannya mencapai 200 ribu orang. Hal ini menjadi pertanyaan semua orang termasuk politisi di Sumenep.

“Sungguh tidak masuk akal, daerah penghasil Migas di Madura malah angka kemiskinannya berada diurutan nomor 35 dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Ironisnya lagi jumlah pengangguran mencapai ratusan ribu di Sumenep, hal ini membuktikan jika Pemerintah daerah masih belum memikirkan nasib masyarakat,” kata Abd. Azis Salim Syabibi, Politisi dari Partai Nasdem, Rabu (3/5/2017).

Lanjut Azis, Ketua DPD Partai Nasdem Sumenep ini, seharusnya sebagai penghasil Migas di Madura, masyarakat di Bumi Sumekar ini sudah sejahtera dan jumlah penganggurannya tidak sebanyak itu. Ironisnya lagi, Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terkesan mengabaikan program untuk kesejahteran masyarakat dan mengurangi angka pengangguran.

“Ini faktanya terbalik, seharusnya masyarakat Sumenep sejahtera. Namun dilapangan dengan kekayaan migas yang melimpah malah seperti ‘Ayam mati di lumbung padi’. Hal ini terjadi karena dana Corporate Social Responsibility (CSR) maupun dana Paricipating Intrest masih belum jelas kemana mengalir dana tersebut,” ujar Aktivis Penggagas Kepulauan Jadi Kabupaten sendiri ini.

Oleh karena itu, pihaknya berharap program yang dicanangkan pemerintah harus pro rakyat, sehingga angka kemiskinan dan pengangguran di Sumenep berkurang. Selain itu Dana CSR maupun PI juga harus tepat sasaran, sehingga masyarakat Sumenep, terutama daerah terdampak bisa mendapatkan dana tersebut.

“Saya kira dana ini tidak tepat sasaran, sehingga angka kemiskinan maupun jumlah pengangguran di Sumenep masih tinggi,” pungkasnya.

Berdasarkan data di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sumenep, jumlah pengangguran pada tahun 2016 mencapai 200 ribu orang, namun pada tahun 2017 ini, mengalami penuruan 0,6 perse. Hal ini terjadi karena minimnya peluang kerja dan minimnya perusahaan industri yang beroperasi di Sumenep.

“Minimnya peluang kerja dan perusahaan Industri yang beroperasi di Sumenep,” katanya.

Selain itu lanjut Zaini, masyarakat yang belum bekerja di Sumenep, rata-rata lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), selain itu juga mereka (Pengangguran, red) enggan memanfaatkan keahlian yang dimilikinya, sehingga menyebabkan angka pengangguran menjadi tinggi.

“Ya repot juga, rata-rata penganguran yang ada di Sumenep enggan memanfaatkan keahliannya, dan mereka lebih mengharapkan kerja di kantoran,” ungkapnya.

Masih kata Zaini, saat ini Disnakertrans Sumenep terus berupaya untuk menekan angka pengangguran di Sumenep, diantaranya dengan menggelar bursa pameran usaha dan tenaga kerja setiap tahun.

“Mungkin dengan kegiatan ini bisa mendorong masyarakat untuk menjadi wirausaha mandiri, tanpa harus menunggu peluang kerja dari perusahaan,” pungkasnya. (Roni)

Komentar