oleh

Dinkes Sumenep Gelar Advokasi dan Sosialisasi Survey Serologi Frambusia

News Satu, Sumenep, Selasa 18 April 2017- Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menggelar Advokasi dan Sosialisasi Survey Serologi Frambusia, Selasa (18/4/2017). Kegiatan yang bertempat di Aula hotel Utami itu dibuka langsung oleh Bupati Sumenep, DR. A Busyro Karim, dan dihadiri sejumlah pimpinan SKPD dan camat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr. Fatoni, mengatakan, kegiatan survey serologi frambusia yang melibatkan kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan provinsi itu bertujuan untuk memastikan bahwa Kabupaten Sumenep bebas dari penyakit Frambusia. Sebab, penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri treponeme pertenue itu sangat berbahaya bahkan dapat menyebabkan penderita menjadi lumpuh.

“Penyakit Frambusia ini sangat berbahaya dan menular. Bahkan efek yang ditimbulkan sangat mengerikan. Kalau berada di pipi atau hidung itu bisa berlubang,” kata kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr Fatoni, Selasa (18/4/2017).

Ia menjelaskan, meski sampai hari ini belum ada masyarakat Sumenep yang positif terinfeksi penyakit frambusia, namun Kabupaten ujung timur Madura ini masuk dalam kategori daerah yang endemis. Pasalnya, pada tahun 2016 lalu ada seorang bayi yang dilaporkan suspect penyakit frambusia, namun ketika dilakukan pemeriksaan laboratorium hasilnya negatif.

“Karena laporannya suspect, Sumenep masuk dalam kategori endemis,” ujar mantan Kepala UPT Puskesmas Ambunten ini.

Untuk membebaskan penyakit tersebut dari masyarakat Sumenep, pihaknya mengaku telah melakukan survey serologis kepada anak bayi sejak tahun 2016. Survey tersebut akan dilakukan tiap tahun hingga tahun 2019. Jika dalam kurun waktu tiga tahun tersebut tidak ditemukan anak yang positif, maka dapat dipastikan Sumenep terbebas dari penyakit frambusia.

“Tahun kemarin kita melakukan pemeriksaan terhadap 120 anak. Alhamdulillah hasilnya negatif,” terangnya.

Ia berharap, masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga mandi secara rutin tiga kali sehari untuk mencegah berkembangnya bakteri yang menyerang kulit dan kekebalan tubuh itu. Selain itu, pihaknya juga meminta agar para ibu melakukan pemeriksaan serologis pada anaknya untuk pencegahan sejak dini.

“Penularannya sangat cepat, baik melalui kontak langsung atau tidak. Jadi kalau satu orang terinfeksi penyakit ini, maka satu desa harus diperiksa semua,” imbuhnya. (Ozi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.