oleh

Kenapa Pantai Lombang Gagal Jadi Wisata Nusantara Pada Tahun 1995 ???

News Satu, Sumenep, Senin 26 Februari 2018- Sekitar tahun 1995 Pantai Wisata Lombang, Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim) di konsep menjadi sebuah Wisata Nusantara  dan wisata Estafet. Namun konsep tersebut tidak bisa dilaksanakan karena menuai protes dari masyarakat dan sejumlah ulama.

“Sekitar tahun 1995 memang ada konsep Wisata Nusantara dan Wisata Estafet di Sumenep, namun karena ada protes, ya akhirnya tidak bisa dilaksanakan,” kata H. Masdawi, Warga Desa Lombang, Kecamatan Batang-batang, Sumenep, Senin (26/2/2018).

Lanjut Masdawi yang saat ini menjadi Anggota DPRD Sumenep, dalam konsep tersebut semua fasilitas di pantai Wisata Lombang akan dibangun, seperti arena permainan anak, kios hingga perhotelan atau Home Stay di pinggir pantai. Namun sebelum, dilaksanakan masyarakat bersama ulama langsung menolaknya dengan menggelar istighosa.

“Saya masih ingat, pada saat itu yang memimpin istighosa diantaranya KH. Busyro Karim dan KH. Ramdhan Siradj sebelum beliau menjabat sebagai Bupati Sumenep,” ujarnya.

Padahal jika konsep Wisata Nusantara dan Wisata Estafet ini dilakukan, maka Pemerintah Daerah yang sekarang tinggal melanjutkan dan terus mempromosikan. Apalagi saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep mencanangkan Visit atau Kunjungan Wisata tahun 2018.

Menurutnya, apa bedanya Konsep Wisata Nusantara dan Wisata Estafet yang konsepnya lahir pada tahun 1995 dengan Program Visit Sumenep 2018 yang dicanangkan Bupati Sumenep, KH. A Busyro Karim. Sebab, pada intinya sama, yakni menarik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara untuk berkunjung ke Sumenep.

“Coba dulu tidak ada penolakan, maka tinggal melanjutkan dan terus mengembangkan obyek wisata Pantai Lombang. Jadi saat mencanangkan Program Visit tidak lagi mengalami kesulitan,” tandasnya.

Masdawi yang pada waktu itu sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Lombang mengatakan, selain menjadi Wisata Nusantara, rencananya ada paket wisata Estafet, yakni para wisatawan asing maupun lokal akan menikmati tiga obyek wisata yang ada di Sumenep mulai setelah menikmati obyek wisata yang ada di Pulau Sepudi, maka wisatawan tersebut akan ditarik ke Wisata Kesehatan dengan kadar oksigen 21% lebih yang terletak di Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek. dan terakhir menikmati wisata pantai Lombang, Kecamatan Batang-batan.

“Setelah menikmati wisata yang ada di Pulau Sepudi, para wisatawan akan diajak untuk menikmati Oksigen di Pulau Gili Iyang, kemudian mereka (wisatawan, red) akan menginap di Pantai Lombang sambil menikmati hamparan pasir putih dan ribuan pohon cemara udang,” ungkapnya.

Sementara, KH. A Busyro Karim, Bupati Sumenep mengatakan, sebenarnya tidak ada penolakan dari masyarakat maupun Ulama, melainkan dirinya (sebelum jadi Bupati Sumenep, red) hanya menggelar istighosa saja. Selain itu, juga kurangnya sosialisi terhadap masayarakat terhadap konsep Wisata Nusantara tersebut, sehingga menimbulkan reaksi dan praduga di masyarakat.

“Kami hanya menggelar istighosa untuk mendoakan pantai Lombang agar tetap terjaga dari segala mara bahaya, dan kami hanya ingin wisata pantai Lombang menjadi wisata Syariah di Sumenep,” katanya dengan singkat tanpa bercerita banyak latar belakang penolakan Pantai Lombang menjadi wisata Nusantara. (Roni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.