oleh

Politisi Gerindra, Kata Siapa Pemuda Sumenep Enggan Bertani???

News Satu, Sumenep, Senin 30 April 2018- Memasuki era globalisasi dan semakin canggihnya teknologi, membuat para remaja enggan untuk turun ke sawah dengan alasan gengsi atau sudah bukan jamannya menjadi seorang petani. Namun pemikiran seperti itu langsung ditepis oleh Politisi Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim).

Ketua DPC Gerindra Sumenep, KH. Ilyasi Siradj mengatakan, kemajuan jaman dan teknologi yang semakin canggih jangan sampai menyurutkan semangat bangan Indonesia untuk menhidupakn pertanian. Namun untuk menghidupkan dunia pertanian tidak hanya dengan beropini atau sekedar konsep saja, melainkan harus dibuktikan dengan fisik.

Seperti yang dilakukan oleh Kader Gerindra, Nurus Salam, dari Derah Pemilihan (Dapil) satu (1) yang mulai memberikan motivasi terhadap para pemuda untuk bisa terjun ke sawah sebagai Petani. Bahkan, para pemuda yang masih berumur 23 tahun ini sudah memberikan bukti nyata, jika kemajuan jaman dan semakin canggihnya teknologi tidak membuat diri mereka gengsi untuk bertani.

“Saya sangat salut dan apresiasi dengan para pemuda di Desa Parsanga ini, mereka mampu menghidupkan dunia pertanian dengan menanam jagung dan padi, serta sayur mayur,” katanya, saat memanen Jagung Manis dari hasil tanaman para pemuda Parsanga, Senin (30/4/2018) sore.

Melihat semangat para pemuda yang merupakan penerus bangsa tersebut, Kiai karismatik di Sumenep ini spontan langsung turun ke sawah dan ikut memanen jagung manis hasil karya dari para Pemuda Parsanga. Bahkan, Kiai Ilyasi Siradj juga langsung merasakan kemanisan jagung tersebut tanpa dibakar atau dimasak.

“Wow jagung ini sangat manis, meski tanpa dimasak atau dibakar sudah terasa manisnya. Ini patut dijadikan sampel pertanian jagung di Sumenep, oleh karena itu saya akan instruksikan kepada para kader Gerindra untuk menghidupkan pertanian dengan memberikan motivasi kepada para pemuda,” tandasnya.

Alasan kenapa harus memilih bidang pertanian yang dihidupkan, menurut KH. Ilyasi Siradj, negara Indonesia memiliki kekayan sumber daya alam (SDA) diantaranya adalah Pertanian. Bahkan, pada jaman dulu negara ini mampu membantu negara lain dari hasil pertaniannya. Namun semakin berkembangnya jaman dan majunya teknologi, hasil produksi pertanian di Negara ini mengalami penurunan, bahkan harus melakukan impor dari negara lain, seperti beras dan kedelai.

Hal itu terjadi, karena banyak petani yang mulai beralih profesi, apalagi para pemuda yang pada jaman globalisasi ini, seakan-akan enggan untuk turun ke sawah. Oleh karena itu, pada saat ini Gerindra akan mulai menghidupkan atau menggairahkan kembali dunia pertanian dengan memulai dari para pemuda, karena dari pemuda Negara ini akan bangkit.

“Jika bukan sekarang kapan lagi, makanya kami memulai dari para pemuda untuk menjadi kreatif dalam memajukan pertanian di Negara ini khususnya di Sumenep,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Partai Gerindra lebih fokus membangkitkan dunia pertanian, agar negara ini tidak selalu melakukan impor dari Negara lain. Padahal jika dilihat dari SDA dan lahan pertanian Negara Indonesia sangat kaya.

“Teruslah semangat para pemudaku, karena engkau adalah penerus bangsa dan bisa menjaga Negara ini tetap makmur aman dan sentosa,” pungkasnya.

Sementara, Farid Aditiya Koordinator Pemuda Tani Desa Parsangan Kabupaten Sumenep, merasa bersyukur dan berterimakasih kepada Partai Gerindra yang telah memberikan semangat dalam bertani. Selama 3 tahun dirinya terpaksa menjadi pengangguran karena sulitnya mencari lapangan kerja. Namun setelah, ada program dari Politisi Gerindra, Nurus Salam yang mengajaknya untuk belajar bertani, maka dirinya tahu betapa kejamnya dunia ini dan sulitnya hidup di era globalisasi.

“Saya sangat bersyukur dari pengangguran menjadi seorang petani yang memilik penghasilan. Akan tetapi yang paling berkesan selama belajar menjadi petani adalah mendapatkan pengetahuan dan bagaimana cara mengimbangi pertanian di era globalisasi ini,” ujar pemuda yang masih berumur 23 tahun ini.

Ia mengatakan, awalnya dirinya merasa gengsi atau malu, masa di era globalisasi dan teknologi serba canggih ini hanya menjadi seorang petani. Namun setelah turun langsung ke dunia pertanian, ternyata betapa pentingnya pertanian bagi Negara maupun masyarakat, sebab hasil pertanian tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Selain itu, dirinya juga banyak belajar bagaimana mengimbangi dunia pertanian dengan berkembangnya jaman ini, seperti menanam jagung manis ini, jika dulu jagung manis hanya bisa di konsumsi untuk campuran beras, dan harganya tidak seberapa. Ternyata jika kreatif jagung tidak hanya di jadikan bahan campuran beras sewaktu-waktu, melainkan juga bisa menjadi bahan pokok bagi masyarakat.

“Jadi kita harus kreatif dalam era globalisasi ini, dan saya juga ingin mengajak para pemuda di Sumenep agar jangan gengsi atau malu di era globalisasi menjadi sebagai petani. Sebab, tanpa petani kita tidak bisa apa-apa, karena kebutuhan pokok itu dari hasil pertanian. Marilah kita hidupkan dunia pertanian agar negara ini selalu makmur dan tidak harus impor beras atau kedelai dari negara lain,” pungkasnya. (Roni)

Komentar

News Feed