Vaksin MR Ditolak Tokoh, Imunisasi di Sumenep Belum Maksimal

News Satu, Sumenep, Rabu 20 September 2017- Program imunisasi Measles-Rubella (MR) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tidak berjalan maksimal. Pasalnya, vaksin yang disuntikkan kepada anak untuk mencegah penyakit campak dan rubella itu mendapat penolakan dari tokoh masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr Fatoni mengatakan, penolakan tersebut disebabkan karena vaksin RM tidak mengantongi sertifikat halal dari MUI. Sehingga masyarakat beranggapan bahwa vaksin tersebut mengandung bahan yang diharamkan seperti zat babi.

“Imunisasi MR terkendala adanya penolakan dari tokoh masyarakat. Alasannya karena tidak ada sertifikat halal dari MUI,” kata kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, dr Fatoni, Rabu (20/9/2017).

Menurutnya, pemikiran sebagian tokoh masyarakat tersebut merupakan pemahaman yang salah, sebab imunisasi MR sangat bermanfaat bagi kesehatan anak. Meski dalam vaksin MR belum ada label halal dari MUI, namun secara keilmuan, vaksin tersebut bebas dari unsur babi.

“Secara keilmuan vaksin MR memang tidak harus pakai label halal, karena tidak ada unsur babi,” ujar Fatoni.

Ia mengungkapkan, pihak perusahaan saat ini masih fokus untuk menggenjot produksi. Sehingga tidak sempat untuk mengajukan permohonan sertifikat halal kepada MUI.

“Bayangkan, anak usia sampai 15 tahun di Indonesia banyak sekali. Sehingga perusahaan masih fokus di bidang produksi,” jelasnya.

Mantan kepala Puskesmas Ambunten ini menyebutkan, realisasi program imunisasi MR di Sumenep baru mencapai 86 persen. Padahal pada akhir bulan September ini, target realisasi harus mencapai 95 persen.

“Ada beberapa kecamatan yang masih rendah, salah satunya di Kecamatan Talango, Guluk-guluk, Arjasa, Batang-batang dan Kecamatan Masalembu,” imbuhnya. (Ozi)

Komentar