oleh

Wisatawan Meningkat, Bandara Trunojoyo Sumenep Layani Penerbangan 2 Kali Sehari

News Satu, Sumenep, Jumat 6 Juli 2018- Bandara Trunojoyo Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim) yang merupakan Bandar Udara (Bandara) satu-satunya di pulau garam Madura ini, terus dilakukan pengembangan. Semangat Pemerintah untuk menjadikan bandara Trunojoyo yang berlokasi di Desa Pabian, Kecamatan Kota, Sumenep ini terus dilakukan.

Sebab, Bandara Trunojoyo pernah mengalami masa keemasan pada masa awal pembangunan, yakni pemberangkatan calon Jamaah Haji langsung diterbangkan dari Sumenep menuju Surabaya. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Bandara Trunojoyo mengalami pasang surut bahkan sempat vakum.

Kemudian pada tahun 2011, Pemerintah Daerah kembali memusatkan perhatiannya terhadap bandara Trunojoyo. Mulai dari pembebasan lahan di sekitar bandara Trunojoyo dengan dilakukan sebanyak lima tahap sejak tahun 2011.

Sebelum dilakukan pengembangan, lahan bandara hanya memiliki luas 8,3 hektar. Namun setelah dilakukan pembebasan lahan, kini luas Bandara Trunojoyo mencapai 33,57 hektar. Sedangkan untuk panjang runway sebelumnya hanya 800 meter, saat ini sudah mencapai 1.600 meter dengan lebar 30 meter.

“Kami terus melakukan pembenahan terhadap Bandara Trunojoyo Sumenep,” kata Sustono, Kepala Dinas Perhubungan Sumenep, Jumat (6/7/2018).

Seiring perkembangan zaman dan waktu, Bandara Trunojoyo yang merupakan kebanggara masyarakat Madura, khususnya Sumenep ini mulai dioperasikan. Namun hanya untuk dijadikan latihan Pilot School. Setelah puluhan tahun menunggu Bandara Trunojoyo beroperasi, akhirnya pada tahun 2015 Bandara Trunojoyo melayani penerbangan pesawat perintis dengan rute Sumenep-Surabaya dan Surabaya-Sumenep.

“Bandara ini dibangun sekitar tahun 1970-an, pada waktu itu Bupatinya Soemaroem, dan Syukur Alhamdulillah kini mulai melayani penerbangan Perintis,” ucapnya.

Semangat Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Sumenep terus berkobar untuk menjadikan Bandara Trunojoyo sebagai Bandara Komersil. Bahkan, Pada Pemerintahan A. Busyro Karim dan Achmad Fauzi ini, pembangunan dan pengembangan Bandara Trunojoyo terus dilakukan.

Selain itu, Pemerintah Daerah terus melakukan komunikasi dengan Perusahaan Penerbangan agar membuka jalur Sumenep-Surabaya atau Surabaya-Sumenep, dan akhirnya Penerbangan Surabaya-Sumenep dibuka pada 27 September 2017 dengan menggunakan Pesawat milik Wings Air jenis ATR 72-600, yang memiliki berkapasitas 72 penumpang dengan jadwal penerbangan satu (1) kali sehari.

“Rute penerbangan Surabaya-Sumenep atau Sumenep-Surabaya dibuka pada tanggal 27 September 2017,” terangnya.

Sejak beroperasinya Pesawat Wings Air di Bandara Trunojoyo, ternyata mendapatkan antusias yang tinggi dari masyarakat. Sebab, selain waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan perjalanan melalui darat, harga tiket yang disediakan juga sangat terjangkau yakni kisaran Rp 179 ribu untuk rute Sumenep-Surabaya, dan Rp 225 ribu untuk rute Surabaya-Sumenep.

Dibukanya penerbangan komersial di Bandara Trunojoyo ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumenep. Bahkan dengan diresmikannya penerbangan komersial ini telah melahirkan harapan dan mimpi baru untuk menjadi gerbang Madura. Selain itu, keberadaan bandara diharapkan dapat menjadi icon baru untuk mendongkrak perekonomian masyarakat.

Harapan dan mimpi baru ini ternyata bukan sekedar harapan semu. Sebab, mimpi ini sejalan dengan komitmen provinsi Jawa Timur untuk pembangunan Madura, Kabupaten Sumenep memang diproyeksikan menjadi pintu masuk Madura dari wilayah timur, sedangkan Bangkalan dengan Jembatan Suramadu-nya menjadi pintu masuk dari sisi sebelah barat.

“Sebelah barat ada jembatan Suramadu dan sisi timur melalui bandara Trunojoyo,” ujarnya.

Harapan dan mimpi baru untuk menjadi gerbang Madura ini juga didukung oleh banyaknya destinasi wisata yang ada di wilayah Sumenep. Mulai dari wisata budaya, wisata bahari dan wisata kesehatan. Bahkan, aroma oksigen murni dari pulau Gili Iyang sudah tercium ke ibu kota Jakarta dan kini menjadi icon Indonesia.

“Kami memiliki banyak destinasi wisata, dan kami juga memilik wisata yang kadar oksigen nomor dua (2) terbaik di Dunia setelah Yordania,” tandasnya.

Tidak hanya itu saja saat ini Sumenep sudah menjadi salah satu tujuan investasi dan wisatawan. Untuk tahun 2017 ini, totalnya ada 12 paket kunjungan wisatawan mancanegara dengan menggunakan kapal pesiar.

“Dengan adanya rute penerbangan komersil ini diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisatawan ke Sumenep,” ungkapnya.

Sejak penerbangan komersial dibuka, jumlah wisatawan ke Sumenep bertambah signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai Juni 2018 kunjungan wisatawan mencapai 87 persen, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Itu saat masih penerbangan satu (1) kali sehari kunjungan naik 87 persen,” tuturnya.

Oleh karena itu, Pemkab Sumenep mengusulkan agar ada penemabahan penerbangan yakni dua (2) kali sehari dengan harapan mampu meningkatkan jumlah penumpang dan menggenjot jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumenep.

“Syukurlah, penambahan jadwal penerbangan dua (2) kali itu disetujui, dan rencananya akan dimulai pada tanggal 8 Juli 2018,” pungkasnya.

Rencananya, pada bulan Juli hingga Desember 2018, Pemkab Sumenep telah menyiapkan beragam event, diantaranya gebyar mancing internasional, festival budaya Sumenep, kirab pusaka Keraton Sumenep, festival keraton se-Asean, ngontel wisata di Pulau Oksigen dan petik laut akbar, serta festival musik tradisional Nusantara. (Roni)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.