Realitas Pahit Di Balik Klaim Penurunan Kemiskinan Di Sumenep

News Satu, Sumenep, Kamis 9 Mei 2024- Di tengah klaim pemerintah tentang penurunan angka kemiskinan, sebuah investigasi mendalam mengungkap realitas pahit yang dihadapi oleh masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Meskipun statistik menunjukkan penurunan angka kemiskinan, kenyataannya banyak penduduk Sumenep masih terjebak dalam pusaran kemiskinan yang sulit untuk mereka lepaskan. Bahkan, meski telah diadakan Job Fair dengan ribuan lowongan pekerjaan pada tahun 2023, masyarakat Sumenep tetap menghadapi tantangan besar dalam mencari pekerjaan yang layak.

Mayoritas penduduk, khususnya yang tinggal di pedesaan, terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari nafkah di kota lain. Mereka menghadapi keadaan ekonomi yang sulit, sehingga harus mengadu nasib di kota-kota besar, bahkan ada pula yang memilih untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Dewan Pembina Relawan Infant Gibran (Brigib) Sumenep, Fauzi AS mengatakan, faktor urbanisasi dan migrasi menjadi penyebab utama penurunan angka kemiskinan yang diklaim oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo.

“Namun, hal ini tidak mencerminkan keberhasilan kebijakan pemerintah, melainkan keputusan ekonomi yang diambil secara mandiri oleh masyarakat untuk bertahan hidup,” ujarnya, kepada redaksi news satu, Kamis (9/5/2024).

Fauzi AS menegaskan bahwa pemahaman akan realitas di lapangan sangat penting dalam merumuskan kebijakan yang efektif untuk mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran.

“Diperlukan upaya lebih lanjut untuk memahami akar permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat Sumenep dan mengambil langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” tandasnya.

Ia menyatakan, alasan mereka nekat mengadu nasib di luar kota hingga luar negeri, karena di Kabupaten Sumenep sangat minim pekerjaan dan upahnya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

“Sehingga, mereka nekat mencari pekerjaan di luar kota dengan menjadi penjaga toko klontong di Tangerang, Jakarta, Surabaya dan di kota-kota lainnya,” ujar Fauzi AS, seorang aktivis yang selama konsisten mengkritisi kebijakan dalam Pemerintahan Bupati Fauzi.

Oleh karena itu, seorang Bupati atau pemimpin, Achmad Fauzi Wongsojudo, jangan terus-terusan hanya menerima laporan diatas meja. Melainkan juga sekali-kali turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi masyarakat atau rakyatnya.

“Ya begitulah, jika seorang pemimpin hanya duduk manis dan menerima laporan diatas meja saja. Akhirnya terbongkar di publik, jika ada dua nenek yang sama sekali tidak menerima bantuan apapun dari Pemerintah dan hidup di sebuah gubuk reot,” tukasnya.

Fauzi AS menambahkan, Hotipah (64) dan Putriya (70), warga Desa Brakas Dajah, Kecamatan Guluk-gulukm Sumenep, merupakan pukulan telak bagi Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, yang selama ini mengklaim mampu menurunkan angka kemiskinan.

“Ini merupakan pukulan telak bagi Bupati Fauzi. Mungkin itu masih salah satu contoh kecil saja, dan tidak menutup kemungkinan masih banyak masyarakat yang nasibnya sama dengan nenek Hotipah dan Putriya,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, 3 Kabupaten di Madura menduduki 3 besar dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Untuk peringkat pertama adalah, Kabupaten Sampang dengan jumlah penduduk miskin 221.710 jiwa (21,76%), kemudian Kabupaten Bangkalan dengan jumlah penduduk miskin 196.660 jiwa (19,35%) dan peringkat ketiga adalah Kabupaten Sumenep dengan jumlah penduduk miskin 206.100 jiwa (18,70%). (Roni)

Komentar