Surabaya, Selasa 13 Januari 2026 | News Satu- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa peran influencer di era digital tidak cukup hanya mengandalkan popularitas. Menurutnya, pengaruh yang sehat harus dibangun di atas fondasi karakter, kapasitas keilmuan, serta pemahaman komunikasi yang matang.
Pernyataan tersebut disampaikan Lia saat menjadi pemateri dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang diselenggarakan STAI Taruna Surabaya. Kehadirannya disambut antusias mahasiswa yang ingin memperdalam pemahaman kepemimpinan dan komunikasi publik.
Dalam pemaparannya, Lia mendorong mahasiswa agar percaya diri ketika berbicara di hadapan publik. Ia menilai ketenangan jiwa merupakan elemen penting agar pesan dapat tersampaikan secara efektif dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Berbicara di depan umum itu soal kesiapan batin. Ketika hati tenang, pesan akan lebih mudah diterima. Dalam tradisi keislaman, kita diajarkan memohon kelapangan hati dan kelancaran lisan agar komunikasi berjalan baik,” ungkap Lia, Selasa (13/1/2026).
Lia menambahkan, influencer yang memiliki integritas adalah mereka yang menyampaikan pesan secara jujur dan tulus. Generasi muda, menurutnya, semakin kritis dan mampu membedakan mana konten yang lahir dari kepentingan semu dan mana yang benar-benar bernilai.
Selain aspek moral, Lia juga menyoroti pentingnya pemahaman akademik. Mahasiswa diingatkan agar tidak asal memproduksi konten tanpa memahami dampaknya terhadap opini publik.
Ning Lia menyebut beberapa teori komunikasi, seperti teori jarum suntik dan spiral keheningan, sebagai dasar penting untuk memahami bagaimana pesan dapat mempengaruhi persepsi dan sikap masyarakat.
“Konten digital bukan sekadar hiburan. Ia bisa membentuk cara berpikir publik. Karena itu, influencer harus paham teori komunikasi agar tidak salah arah,” tegasnya.
Lia juga menyinggung besarnya daya jangkau media sosial Indonesia. Ia menilai arus informasi dari dalam negeri kerap berdampak luas hingga ke ranah internasional, sehingga tanggung jawab etis pengguna media sosial menjadi semakin besar.
“Media sosial kita sangat kuat. Apa yang viral di Indonesia bisa berdampak ke luar negeri. Maka mahasiswa harus selektif dan bertanggung jawab dalam membangun narasi,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Lia berharap mahasiswa STAI Taruna Surabaya mampu tumbuh sebagai figur muda yang mampu memberi pengaruh positif di ruang digital, sekaligus berkontribusi bagi masyarakat luas.
“Saya menekankan bahwa kampus memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang cerdas berkomunikasi dan kuat secara karakter,” pungkasnya. (Kiki)










