News Satu, Bondowoso, Sabtu 29 Juni 2019- Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, awalnya hanya sebuah hutan belantara. Pada tahun 1809 Raden Bagus Asrah atau Mas Ngabehi Astrotruno dianggkat sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro.

Dia dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagai ubahan perkataan Wana Wasa.

Maknanya kemudian dikaitkan dengan perkataan Bondo, yang berarti modal, bekal, dan woso yang berarti kekuasaan. makna seluruhnya demikian, terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Meskipun Belanda telah bercokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukkan Bondowoso kedalam wilayah kekuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan personel praja masih wewenang Ronggo Besuki, maka tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro.

Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepada Dia untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki. Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronngo I.

“Tentunya, kI Ronggo  dan penerusnya dalam  membangun Bondowoso  yang  dulunya hutan  belantara sampai menjadi kabupaten tak lepas dari tantangan dan rintangan yang di hadapi , namun  hal itu  di lalui dengan keseriusan dan kegigihan  serta  kesungguhan sampai menjadi  bondowoso saat ini,” kata Bupati Bondowoso, KH Salwa saat menggelar Tasyakkuran di  Desa Sekarputih, Kecamatan Tegal Ampel , Sabtu (29/6/2019).

Ia meminta kepada masyarakat untuk mendukung sepenuhnya  bersama sama membangun  kota bondowoso ini.

“Kami harap ada dukungan penuh dari masyarakat dalam pembangunana bondowoso,” pintanya.

Lebih Lanjut Bupati, yang lebih penting  bagaimana kita mendalami makna Hari Jadi Bondowoso (Harjabo) ini untuk meningkatkan nilai Kebangsaan.

“Dengan acara ini, kita harus  banyak bersyukur kepada Allah SWT, untuk introspeksi diri sebenarnya apa yang telah kita berikan kepada Bondowoso. Sehingga  kedepannya Bondowoso akan menjadi Toyyibatun wa robbun ghofur,” imbuhnya.

Sementara, pada tahun 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangku antara 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang atau jalan S Yudodiharjo (jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagai Kabupaten lama. (Rokib)

Komentar