oleh

Pemkab Dan Ulama di Bondowoso Bersinergi Perangi Paham Radikalisme

News Satu, Bondowoso, Rabu 4 Desember 2019– Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan ulama se-Bondowoso, mengadang ulama sepakat untuk bersinergi dalam memerangi paham dan mencegah paham radikalisme yang selalu meresahkan masyarakat dan memecah belah kehidupan bangsa di Bondowoso.

Hal itu, disampaikannya dalam acara Forum Silahturahmi Tomas, Toga dan Masyarakat dengan Forpimda Kabupaten Bondowoso, di Ponpes Al Falah, Desa Kajar, Kecamatan Tenggarang, Rabu (4/12/2019).

Dalam sambutannya Bupati Bondowoso KH Salwa, menyampaikan apresiasi atas peran para ulama dalam menjaga kondusifitas di Bumi Ki Ronggo, khususnya dalam mencegah masuknya aliran radikalisme.

“Untuk menjaga kondusifitas, tak kalah penting adalah sinergitas, baik pemerintah, ulama dan masyarakat mencegah paham radikalisme agar tidak masuk ke Bondowoso,” katanya.

Tak hanya itu. Pemerintah daerah berkomitmen akan terus bersenirgi dengan aparat keamanan dari TNI-Polri akan terus menjaga Daerah , dari aliran yang akan memecah belah bangsa.“Tentu kami sebegagai pemerintah ada kekuatan Perda yang akan melarang (radikalisme). Ini harus bersinergi, baik anatara kiai, tokoh agama, dan masyarakat,”tegasnya.

Sementara itu, KH Moh Hasan Abdul Mu’iz ulama bondowoso, mengatakan, dirinya dan para ulama yang lain sepakat bahwa radikalisme itu tidak boleh.

Di menjelaskan , bahwa radikalisme itu tidak punya agama. Kalau kemudian ada legalisasi untuk radikalisme, berarti yang memberikan legalitas tidak punya agama.

“Termasuk juga terorisme, juga tidak punya agama, karena agama manapun tidak setuju terhadap kekerasan. Kan begitu,” jelasnya

Dia juga menyarankan, jika memang radikalisme itu bahaya, maka yang harus di potong penyebabnya, atau di hulunya.

“Misalnya, kenapa orang bisa jadi radikal? Mencari penyebabnya itu jauh lebih penting ditelusuri dan diselesaikan. Sebelum kita menyelesaikan radikalisme sendiri. Kalau hanya dihilangkan penyakitnya, tanpa dicari penyebabnya maka akan kambuh lagi,” paparnya.

Menurutnya, persentase radikalisme di Bondowoso memang ada, tapi sangat kecil. Mengingat wilayah ini, masuk wilayah yang aman dan kondusif.

“Memang perlu diantisipasi, tetapi tidak harus diblow up sedemikian rupa. Karena membesarkan-besarkan yang kecil itu tidak bijaksana,” sambungnya.

Abuya hasan sapa akrabnya itu juga mengimbau kepada masyarakat bahwa Islam dan agama yang lain tak membenarkan radikalisme. “Itu bukan ajaran Agama Islam dan bukan pula ajaran agama yang lain,” tegasnya.

Hadir dalam silaturahmi antara pemerintah dan Bondowoso KH Asy’ari Pasha, Dandim Letkol Inf Jadi, perwakilan Polres, dan seluruh ulama atau pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Bondowoso. ulama kali ini, Bupati Salwa Arifin, Sekretaris Daerah Syaifullah, Ketua MUI. (Rokib)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.