oleh

Ekonomi Islam Pelopor Peradaban Indonesia

News Satu, Kota Depok, Minggu 21 Mei 2017- Pada masa Rasulullah SAW perekonomian berjalan stabil. Ekspansi wilayah kekuasaan islam semakin  meluas. Penghasilan negara pun sangat melimpah sehingga tidak ada lagi masyarakat yang kelaparan. Semua harta dibaitul mal didistribusikan kepada kaum muslimin hingga tak ada yang tersisa. Kali ini, Minggu (21/5/2017) tim redaksi newssatu.com, mendapatkan kiriman artikel yang berjudul Ekonomi Islam Pelopor Peradaban Indonesia, dari Azka Tahiyati Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar).

Kehidupan masyarakat sangat makmur, administrasi keuangan negara sangat rapi bahkan kas negara tidak pernah defisit. Belajarlah dari sejarah karena sejarah memberikan sebuah pelajaran yang memiliki makna besar dalam hidup. Peradaban islam dimulai sejak diutusnya Rasulullah. Beliau membawa ajaran yang membimbing manusia untuk bertauhid kepada Allah SWT.

Awal mula beliau diutus banyak sekali cobaan yang beliau hadapi. Cacian datang dari berbagai penjuru kota Mekah, hinaan dan fitnah selalu menghampiri beliau, namun hal ini tidak menggoyahkan iman Rasulullah. Rasulullah Saw tidak patah semangat beliau tetap bersih kukuh untuk menyebarkan ajaran yang telah diajarkan oleh jibril kepadanya. Terbukti dari kesabaran dan perjuangan beliau jumlah pemeluk islam semakin hari semakin bertambah bahkan islam menjadi agama mayoritas di belahan dunia.

Jika melihat perekonomian pada zaman Rasulullah dan para sahabat terlihat sangat jelas kemajuan ekonomi islam, infrastruktur negara semakin hari semakin meningkat, tingkat kehidupan masyarakat mencapai puncak kesejahteraan bahkan tidak ada lagi masyarakat yang mau menerima shadaqah, semunya berlomba – lomba untuk memberi.

Ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kita, mengenai konsep pemerintahan yang diterapkan oleh para pemerintah terdahulu sehingga perekonomian bisa mencapai puncak tingkat kemakmuran. Dibalik itu terdapat rahasia besar yang mereka terapkan dalam sistem pemerintahan islam.

Pemikiran tentang ekonomi islam telah ada sejak zaman Rasulullah, ulama – ulama terdahulu menuangkan ide dan gagasan mereka mengenai perumusan kebijakan yang harus diterapakan dalam sistem pemerintahan islam, hal ini tentunya memperhatikan unsur kemaslahatan umat. Dalam merumuskan kebijakan para ulama menjadikan Al Quran dan As sunnah sebagai rujukan utama sehingga apa yang mereka rumuskan tidak akan menyimpang dari ketentuan hukum Allah SWT.

Namun lihatlah perekonomian zaman sekarang, jika dibandingkan dengan perekonomian pada masa pemerintahan Rasulullah dan Khalifah – khalifah setelahnya. Perekonomian  saat ini sangat terpuruk dimana – mana terjadi kesenjangan sosial, rakyat kelaparan, perampokan terjadi dimana – mana, bukan berlomba untuk saling memberi  malah saling meminta dan menganggap dirinya kurang mampu.

Sehingga layak dibantu, padahal tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah. Lebih miris lagi saat ini riba menjadi tabu dikalangan masyarakat dan praktiknyapun terjadi dimana – mana.

Adakah kesalahan dengan sistem ekonomi islam sehingga masyarakat enggan untuk menerapkan sistem ekonomi islam pada saat ini. Padahal kita semua sama – sama tahu bahwa sistem ekonomi islam sangat berpotensi dalam mensejahterakan masyarakat. Dengan menerapkan sistem ekonomi islam sebuah negara akan mampu merubah perekonomiannya menjadi lebih baik.

Mengapa kita lebih memilih sistem yang tidak mampu menjamin kesejahteraan bahkan mengakibatkan keterpurukan, kapitalisme sebagai sebuah sistem ketika mengalami depresi menyebabkan krisis ekonomi terjadi di tengah kalangan masyarakat dikarenakan kapitalisme sendiri bergerak dipasar bebas yang akan menyebabkan Indonesia menjadi negara liberal. Ditambah lagi aliran fiat money yang kebijakannya didukung oleh perbankan konvensional yang menyebabkan fiat money tersebut terus mengalir dan dijadikan dewa oleh sebagian orang.

Akibat penggandaan uang  yang begitu dasyatnya menyebabkan  pertumbuhan sektor riil selalu tetinggal dari lompatan pertumbuhan sektor moneter. Padahal pada masa Rasulullah Saw beliau lebih menekankan pada sektor riil. Jika sebuah negara ingin berkembang maka hal utama yang mesti dilakukan dengan cara meningkatkan sektor riil.

Ini sudah menyimpang dari esensi uang sendiri. Dalam ekonomi islam uang difungsikan sebagai alat untuk transaksi dan berjaga – jaga. Namun dalam ekonomi kapitalis fungsi uang selain dua fungsi tersebut yaitu spekulasi. Adanya spekulasi inilah yang menyebabkan ketimpangan ekonomi terjadi. Pihak – pihak yang memiliki kekuasaan merekalah yang berkuasa.

Wajar saja ketimpangan dan kesenjangan  terjadi karena sistem yang kita pakai saat ini tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya.  Mari kembali ke sistem yang Allah dan Rasulnya ridho sehingga hidup kita mencapai falah dan juga kemulian dari Allah SWT.

Itulah artikel yang dikirimkan oleh Azka Tahiyati Mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar). Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan bagi para pembaca newssatu.com, jika anda memiliki artikel maupun kritik dan saran bisa dikirimkan ke redaksinewssatu@gmail.com. (red. News Satu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.