oleh

Tradisi Midang Bebuke Morge Menarik Perhatian Wisatawan Domestik

News Satu, Ogan Komering Ilir (OKI), Kamis 6 Juni 2019- Midang Bebuke Morge Siwe merupakan sebuah tradisi Arak-Arakan Lebaran Sembilan Marga masyarakat Morge Siwe Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang dilaksanakan setiap lebaran Idul Fitri secara turun temurun. Bahkan, pada saat ini, tradisi tersebut dijadikan agenda tahunan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Tak ayal, tradisi Midang Bebuke Morge Siwe ini menjadidaya tarik tersendiri bagi masyarakat, baik lokal, luar provinsi maupun dari mancanegara. Kata Midang sendiri dalam istilah masyarakat Kayuagung adalah sebuah kegiatan berjalan kaki dengan menggunakan pakaian adat perkawinan masyarakat Kayuagung, sedangkan Bebuke artinya lebaran.

Awalnya, midang ini ada pada abad ke-16 yang merupakan persyaratan untuk menjemput mempelai perempuan oleh mempelai laki-laki dalam rangkaian adat istiadat perkawinan. Seiring berjalannya waktu, midang ini terus mengalami perkembangan dan mulai tahun 1954 telah dilaksanakan Midang Bebuke Morge Siwe (Arak-Arakan Lebaran Sembilan Marga).

Dalam acara ini peserta midang akan melakukan arak-arakan dengan menggunakan pakaian adat perkawinan. Setidaknya, ada 14 macam pakaian adat perkawinan yang digunakan dan selalu diiringgi oleh rombongan musik Tanjidor.

Awal mula Midang Morge Siwe sendiri merupakan satu dari rangkaian adat perkawinan Mabang Handak (Burung Putih, red) masyarakat Kayuagung pada masa itu. Dimana ini merupakan perkawinan dalam adat yang tertinggi di Morge Siwe atau Sembilan Marga.

Pasangan muda-mudi yang akan melangsungkan pernikahan, maka salah satunya adalah dengan digelarnya midang dengan peserta muda mudi berasal dari masyarakat sekitar. Tujuannya, memperkenalkan pada khalayak ramai. Tak jarang saat kegiatan midang sedang berlangsung, ada orang tua yang berminat untuk menjodohkan anaknya dengan salah seorang peserta.

Di Hari Raya Idul Fitri 1440 H atau tahun 2019 M ini, sudah dipastikan ribuan warga yang berasal dari 10 Kelurahan di Kecamatan Kayuagung, dan dari luar Kecamatan Kayuagung maupun luar Kabupaten OKI, bahkan dari Mancanegara akan hadir untuk menyaksikan Midang Bebuke Morge Siwe ini.

Seperti pada acara tahun-tahun sebelumnya, acara yang digelar selama dua hari pada hari ke-3 dan ke-4 lebaran Hari Raya Idul Fitri akan menggunakan rute yang dilalui peserta midang, yakni berjalan kaki mengelilingi jalan raya dipinggiran Sungai Komering Kayuagung dan selanjutnya menyeberangi Sungai Komering dengan mengunakan alat transportasi sungai (Ketek atau Perahu, red) serta melalui jembatan yang menghubungkan Kelurahan Kotaraya dengan Kelurahan Mangun Jaya. Kemudian akan berakhir di Pendopoan Rumah Dinas Bupati OKI.

Hasan Indraputra (38), selaku mantan Ketua muda-mudi Kelurahan Kutaraya (mantan Cap Dalom Kutaraya) mengatakan, bahwa sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten OKI Ir Ifna Nurlela pada tahun lalu, bahwa tradisi midang, masih menjadi salah satu adat budaya yang bertahan dan dilestarikan di Kabupaten OKI, Sumsel.

“Adat arak-arakan ini sudah sejak lama dilakukan. Para pelakunya adalah muda-mudi dalam kelurahan. Mulanya midang (Arak-arakan, red) dilakukan oleh muda-mudi yang kelurahannya ada hajatan pernikahan, kemudian untuk melestarikannya dikembangkan menjadi Agenda tahunan Pariwisata, tepatnya di setiap Lebaran Idul Fitri,” jelasnya, Kamis (6/6/2019).

Bahkan saat ini dikatakan Hasan yang juga salah satu penggerak Forum Komunikasi Mowli Muanai Morge Siwe Plus (FKM3Splus) pada tahun 2006 yang lalu dimasa kepemimpinan Bupati OKI H Ishak Mekki MM, Tradisi Midang telah menjadi even Pariwisata Nasional. Artinya, tradisi ini bukan hanya milik Kabupaten OKI, tetapi sudah menjadi salah satu Atraksi Pariwisata yang terdaftar di Kementerian Pariwisata, dan pernah ditampilkan di Istana Negara pada 2007 yang lalu.

“Alhamdulillah, Tradisi Midang Bebuke Morge Siwe ini telah menjadi Agenda Pariwisata Nasional dan terdaftar di Kementerian Pariwisata, serta pernah ditampilkan di Istana Negara, pada 2007 yang lalu,” tuturnya. (HSD)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.