CDK Wilayah Sumenep dan Aktivis Getol Dukung KEE Masakambing

News Satu, Pamekasan, Senin 4 Juli 2022- Komitmen untuk terus menunjang pembangunan kehutanan dan lingkungan hidup terus digeber pemerintah provinsi Jawa timur setelah melakukan ekspedisi Kakak Tua Abbotti di kepulauan Sumenep. Nah, salah satunya melalui Cabang Dinas Kehutanan atau CDK, Provinsi Jatim wilayah Sumenep dengan berkolaborasi aktif bersama segenap pihak dan akademisi.

Buktinya, bersama Mapala Ghubatras Universitas Trunojoyo Bangkalan Madura, CDK Wilayah Sumenep bersama Eiger dengan guyub menggelar Talk Show BEKA ECOTOURISM. Pasalnya acara guyub berbasis lingkungan hidup itu berlangsung di Eiger Merr Surabaya pada Jum’at malam, 1 Juli 2022 jam 18.00 Wib lalu.

Mereka getol membahas kolaborasi antara pemerintah provinsi Jawa Timur dengan masyarakat terutama di Madura. Khususnya dalam mendukung ekowisata di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di Pulau Masakambing kabupaten Sumenep, Madura kedepan.

Baca Juga :  PKB Tetap Usung Walikota Probolinggo Saat Ini di Pemilu 2024

“Hadir dalam talkshow tersebut antara lain, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur diwakili oleh Kasi RLPM CDK Wil Sumenep, BBKSDA Seksi Konservasi Wil IV Surabaya Dan Direktur East Java Ecotourism Forum (EJEF) Agus Wiyono,” ungkap A. Katri Atmodjo, perwakilan CDK Wilayah Sumenep.

Nah, tak hanya itu, diantara para pembicara tersebut juga hadir Ketua Pokdarwis Beka’ Island, Alang sekaligus PKSM CDK Wil Sumenep Bidang Ekowisata Pulau Masakambing. Disamping Local Keeper of Masakambing Cockatoo, Daeng Usman sekaligus PKSM CDK Wil Sumenep Bidang Konservasi Pulau Masakambing.

A Katri Atmodjo yang hadir sebagai perwakilan dari Cabdin Kehutanan, juga menyampaikan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan upaya mempertahankan kondisi alam sangat krusial. Sebab upaya dan semangat besar itu merupakan modal dasar terwujudnya kawasan ekosistem essensial di Pulau Masakambing kabupaten Sumenep Madura.

Baca Juga :  Ketum DPP Demokrat Lantik DPC Probolinggo

Pernyataan ini juga diperkuat oleh Agus Wiyono, Direktur EJEF yang paparkan bahwa ada 5 (lima) unsur dasar terwujudnya ekowisata. Yakni diantaranya dengan adanya upaya mendukung konservasi, mendorong pemberdayaan masyarakat dan tata kelola wisata yang baik

“Selain mengandung unsur edukasi dan yang paling utama adalah unsur pariwisata/entertainment,” tandasnya.

Dalam pandangannya, kegiatan Mapala Ghubatras UTM dengan mengadakan tersebut dikarenakan ingin ikut serta terlibat dalam hal mendukung dan menyebarluaskan gerakan menolak punah burung Kakatua Tua di Pulau Masakambing. Lalu pada akhirnya akan mampu membawa dampak positif bagi upaya kita dalam memujudkan Ekowisata KEE Masakambing. Itu sesuai dengan harapan Ketua Umum Mapala Ghubatras Gangsar Setiyo Aji disela acara tersebut.

Baca Juga :  Dishub Sumenep Berencana Akan Fungsikan Terminal Ayam Cukir

Sekedar informasi, disetiap sesi dihadiri dan diisi oleh dialog hangat seputar KEE yang dilakukan oleh segenap Forum Mahasiswa Pecinta Alam. Lalu juga para Aktifis Lingkungan dan Akademisi dari perguruan tinggi terkemuka antara lain, UNESA, UNAIR, STIESA, UMM, UNTAG 1945, UTM, IAIN Pamekasan sebagai wujud rasa peduli terhadap KEE di pulau Masakambing. (Yudi) 

Komentar