oleh

GMNI Komitmen Kawal Kemajuan Petani Di Pamekasan

News Satu, Pamekasan, Senin 31 Agustus 2020- Melihat fenomena kehidupan petani di era globalisasi, membuat aktivis nasionalis yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, turut prihatin.

Mohammad Hasan, Ketua Cabang GMNI Pamekasan mendorong pemerintah daerah untuk beri gizi pemikiran, tak hanya materi saja. Itu agar petani, berdikari dan mampu kreatif dalam menghadapi tantangan globalisasi.

“Berikan petani gizi pemikiran, bukan materi semata, supaya petani bisa produksi pupuk sendiri. Karena masalah petani hingga kini, pupuk itu sendiri,” tegas, Hasan, Ketua DPC GMNI Pamekasan, Senin (31/8/2020).

Hal itu, ditegaskan dalam Konfercab Ke-IX GMNI Pamekasan. Khusus pada konferensi kali, kader diajak menguatkan isu “Masa Depan Pertanian” dengan bertempat di hotel Cahaya Berlian Pamekasan, mulai 29-31 Agustus 2020.

Dipaparkannya juga, masalah yang menahun terkait nasib petani ini, harus segera selesai. Tentunya, dengan terpilihnya ketua GMNI yang baru nanti, harus benar-benar berjuang untuk rakyat kecil.

“Harus lahir pemimpin yang berjuang bersama rakyat. memberi solusi terhadap permasalahan di Pamekasan. Terutama yang soal pertanian,” jelasnya.

Sementara itu disela sambutanya, H. Raja’e, Wakil Bupati Pamekasan, pelaksanaan Konfercab ini, solusi bagi masalah petani yang menjadi masalah kronis sejak dulu. Dan GMNI selalu hadir, baik Alumni maupun pengurus dalam melindungi, mengedukasi dan mengadvokasi masalah tersebut.

“Soal petani, merupakan masalah tahunan. Semoga semangat nasionalisme kader. Sebab, saya menilai ada 3 hal yang ada di GMNI. Yakni selalu membela kaum proletar, kaum petani dan kaum wong cilik,” papar H. Raja’e.

Selain itu juga, wakil bupati juga mengharapkan adanya ide ide kreatif lainnya dari kader marhaenis ini, untuk secara serta merta mendukung pembangunan kabupaten Pamekasan secara utuh. Artinya, turut sumbang saran pemikiran, mengontrol kerja eksekutif.

“Dan sebagai organisasi kepemudaan yang selalu mengadvokasi wong cilik, mampu menjadi agen perubahan dalam gerakan revolusi mental, para pemuda menjadi progresif,” tutupnya. (Yudi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.