oleh

Relawan Medan Hubungi FRPB Pamekasan

News Satu, Pamekasan, Minggu 1 November 2020- Gerak cepat dilakukan tim Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pasca beredarnya informasi tentang adanya warga Pamekasan bernama Ahmad Mono (62), yang puluhan tahun terlantar di Kota Medan, Sumatera Utara. Bahkan, informasi ini disampaikan langsung oleh perwakilan Relawan Kemanusiaan di Medan.

Selama ini, dilaporkan bahwa Ahmad Mono harus hidup terlunta-lunta setelah memutuskan merantau sejak 40 tahun lalu. Itu, setelah di masa remajanya dahulu merantau ke Sumatra bersama teman sekampungnya.

Selama di Sumatera, Mono tinggal di area pekuburan di Kota Medan, karena tidak mampu untuk menyewa rumah. Bahkan, untuk makan sehari-hari saja, dia mengaku sangat kesulitan karena sudah tidak bisa mencari nafkah karena usianya yang sudah renta.

Informasi tersebutlah yang diterima Ketua FRPB Pamekasan, Budi Cahyono yang menerima kabar langsung dari relawan Kota Medan. Lalu melalui penelusurannya, Ahmad Mono yang akrab dipanggil Paong ternyata warga Desa Gurem Kelurahan Parteker, Kecamatan Kota Pamekasan Jawa Timur.

Ditambahkan, bahwa Pria itu sudah merantau selama 40 tahun dan belum pernah pulang. Lantaran keberangkatanya bersama seorang teman untuk berjualan gantungan kunci di rantau.

“Kami sudah melakukan komunikasi dengan teman relawan di Medan dan pihak terkait untuk mengklarifikasi dan mengonfirmasi informasi keberadaan Ahmad Mono tersebut. Ternyata memang benar, yang bersangkutan warga Kelurahan Parteker Kabupaten Pamekasan, yang pergi merantau 40 tahun yang lalu,” katanya kepada media, Minggu (1/11/2020) petang.

Selanjutnya, Pihaknya bersama tim relawan setempat akan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan keluarga. Bahkan juga dengan Dinas Sosial dan tim Satgas covid-19 untuk memulangkan Paong sapaan akrab Mono, karena kondisinya sangat memprihatinkan dan sebatangkara di Tanah Batak itu.

Menurut penelusuran wartawan ini juga, kabar memprihatinkan tersebut merebak di sosmed. Seperti, facebook, grup whatsapp, dan tayangan youtube.

“Kami tidak ingin kepulangan pak Paong dari Medan justru dari pihak keluarga tidak mau menerima kedatangannya, jadi semua prosedur Prokes dan lainnya harus dipersiapkan. Alhamdulillah gerak cepat semua pihak dan sinergi relawan membuahkan hasil baik,” pungkas pria yang juga tim BPBD Kabupaten Pamekasan ini. (Yudi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.