oleh

Silaturahmi Nasional Ulama Bersama TNI Polri

News Satu, Pekalongan, Senin 25 Desember 2017- Dalam rangka memupuk dan memperkokoh sinergitas dan soliditas, komponen bangsa dan elemen masyarakat diwilayah Pekalongan, Pemkab Pekalongan menggelar Silaturahmi Nasional Ulama bersama TNI dan Polri.

Silaturahni Nasional bersama Ulama dan TNI/Polri ini bertajuk “Satukan Langkah Untuk NKRI”, dihadiri Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Danrem 071/Wk Kolonel Inf Suhardi, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi beserta Forkopimda Pekalongan, Bupati Jepara, KH.Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Ormas dan organisasi pemuda Pekalongan.

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi dalam sambutannya menyampaikan para ulama merupakan pamomong masyarakat, karenanya ulama atau tokoh masyarakat sangat berarti dan dibutuhkan agar tidak terjadi perpecahan di masyarakat.

Dikatakan, apa yang terjadi di Timur Tengah, karena tidak ada yang mempersatukan dari pemahaman yang saling berbeda.

“TNI adalah sebagai penjaga wilayah teritorial Indonesia, karena NKRI terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga dibutuhkan TNI untuk menjaga pulau-pulau tersebut. Begitu pula Polri, sebagai penegak hukum. Sehingga perlu dari semua hukum adat yang ada guna mengatur hukum di Indonesia,” terangnya, Senin (25/12/2017).

  1. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, kegiatan yang dilakukan ini merupakan kegiatan rutinitas setiap tahunnya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan tersebut. Tiga kekuatan bangsa tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. TNI, Polri dan Ulama sebagai penjaga keutuhan NKRI.

“Sebagai generasi penerus bangsa, semestinya mempelajari sejarah dengan baik dan berterimakasih atas jasa para ulama dan pahlawannya,” ungkapnya.

Tanyakan pada diri kita, lanjutnya. Apa yang sudah kita berikan kepada bangsa dan negara. Jangan malah mengkritisi para ulama dan pahlawan terdahulu, yang jelas jasanya untuk bangsa dan negara ini.

“Thoriqoh bukan ilmu politik, bukan untuk ajang politik, tapi sebagai bamper NKRI, karena NKRI harga mati,” katanya.

Sementara itu, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir dalam forum Silaturahmi Nasional Ulama bersama TNI dan Polri. Sebab, saat ini dirinya datang bukan sebagai Panglima TNI, melainkan hanya sebagai seorang prajurit TNI yang menunggu purna tugas.

“Pada saat TNI lahir, sudah diancam sekutu akan datang yang diboncengi NICA/tentara Belanda. TNI datang ke ulama ke Kyai Hasyim Asyari, dengan resolusi jihad berkumpul di Rembang untuk menentukan siapa pemimpinnya. Diambil keputusan yang memimpin Kyai Abas dari Rembang, dan yang membunuh Jenderal Malabi adalah santri, yang merobek bendera Belanda juga santri,” ungkapnya.

Ia mengatakan, jika ingin menghancurkan bangsa ini, harus pisahkan dulu TNI/Polri dengan Ulama. Memisahkan TNI/Polri dengan Ulama saat ini mudah dengan mendengungkan Radikal Kanan.

“Dalam konteks sekarang, tidak mungkin umat Islam akan merusak bangsa ini. Karena para Kyai ikut mendirikan bangsa ini. Para sesepuh bangsa membuat Pembukaan UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila,” jelasnya.

Semua permasalahan tidak ada voting, tapi dengan musyawarah untuk mufakat. Inilah yang perlu diwaspadai sebagai pemecah perbedaan itu. Tidak ada Nabi yang turun di Indonesia, karena Nabi turun akibat masyarakatnya yang perlu dibenahi.

“Bhinneka Tunggal Ika bagi kita bangsa Indonesia, sudah final. Dan yang dapat mengingatkan adalah para Ulama, apabila ada yang salah mari kita ingatkan dan kembalikan. Semua masalah bangsa ini, tidak mungkin tidak, para ulama pasti bisa menyelesaikannya. Terima kasih kepada para Kyai, Habib yang telah menjaga bangsa dan negara ini”, paparnya.

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa para ulama memiliki andil dan berperan besar dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Dalam Silaturahmi Nasional Ulama, TNI dan Polri yang digelar Jami’iyyah Ahlith Thoriqoh Ak-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman)¬† di Pendopo Pemkab Pekalongan, merupakan bagian Pra Muktamar Jatman dan Maulid Kanzus Shalawat yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

Dikatakan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, kalau kita flashback atau melihat kilas balik sejarah perjuangan kemerdekaan, akan didapati fakta bahwa NKRI ini berdiri adalah berkat jasa dan pengorbanan para ulama.

“Di era perjuangan kemerdekaan, TNI (TKR waktu itu) bersama para ulama dan santri bahu membahu untuk mengusir penjajah,” ujarnya.

Meletusnya 10 November di Surabaya, tidak terlepas dari peran para alim ulama. Tidak hanya para Kyai dari Surabaya, tapi dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Jawa Barat, misalnya ada Kyai Abbas Buntet dari Cirebon. Sebelum ke Surabaya, mereka para kyai ini bermusyawarah di Rembang.

Dikatakan, munculnya resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy’ari yang membangkitkan semangat berjuang para kyai dan santri. Dan perlu diketahui, yang berhasil mengebom Jenderal Malaby hingga tewas, bukanlah tentara tetapi santri. Yang merobek bendera Belanda di Hotel Majapahit juga bukan tentara, namun santri”, terangnya.

“Fakta-fakta sejarah ini membuktikan bahwa para ulama betul-betul berperan besar memperjuangkan negara tercinta ini,” tandasnya.

Bangsa Indonesia memiliki sifat pemberani dan berjiwa ksatria. Kalau ditelusuri, hampir disetiap suku memiliki senjata tradisional. Di Jawa ada Keris, di Sunda ada Kujang dan di Aceh ada Rencong. Selain itu, setiap daerah juga memiliki tarian perang. Ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan untuk perang jika jati dirinya diusik. Yang menarik di setiap Kabupaten di Indonesia, pasti ada Makam Pahlawan. Di luar negeri, tidak ada yang seperti ini.

Mantan Panglima TNI ini juga menandaskan bahwa sistem kebangsaan Indonesia dengan Pancasila nya sebagai dasar negara adalah Final, dan tidak perlu diotak-atik lagi.

“Sistem ini didesain oleh para ulama juga, kalau kita lihat siapa saja yang duduk di BPUPKI, sebagian besar adalah para ulama dan kyai,” pungkasnya. (Di2/RN2)

Komentar

News Feed