oleh

Fenomena Embun Salju Di Gunung Bromo Probolinggo

News Satu, Probolinggo, Sabtu 22 Juni 2019- Sejak sepekan terakhir diwisata Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur kembali menyajikan hal unik. Gunung dengan ketinggian 2.329 MDPL itu belakangan kerap muncul embun es salju yang biasa disebut Frozen Bromo.

Hal itu terjadi akibat cuaca ekstrem, suhu turun drastis hingga di bawah nol derajat celcius dan diprediksi, puncak fenomena ini bisa terjadi pada bulan Juli-Agustus 2019. Bagi wisata gunung Bromo, bisa menikmati sensasi es Bromo sekitar pukul 04.00 hingga pukul 05.30.

Itupun harus mencari tempat tepi tebing yang belum terkena sinar matahari. Karena, jika matahari sudah muncul dan menyelimuti dikawasan gunung Bromo, dengan cepat es di Bromo itupun mencair.

Suparman warga Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo mengatakan fenomena unik ini terjadi mulai sepekan terakhir. Akibat cuaca ekstrem, hembusan angin kencang dan suhu drop hingga nol derajat, bahkan sampai minus.

Kondisi itulah yang menimbulkan embun es itu muncul di kawasan gunung bromo serta menempel di dedaunan. Sehingga, di atas dedaunan itu membentuk atau menjadi kristal es.

”Biasanya jam 04.00 embun es di Bromo sudah turun. Tapi kalau jam segitu masih gelap, jadi belum bisa dilihat jelas. Kalau sudah pukul 05.00, mulai ada cahaya, baru terlihat indah dan takjub dengan embun es yang menempel di daunan, di lautan pasir Bromo,” katanya, Sabtu (22/6/2019).

Fenomena ini menjadi suguhan unik dan menarik bagi para pengunjung wisata gunung Bromo. Hampir semuanya takjub dengan kristal es yang timbul.

”Kalau yang baru melihat langsung, merasa seperti di luar negeri. Jadi pengunjung sangat tertarik untuk mencari frozen bromo itu,” ujarnya.

Kepala Seksi I Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sarmin mengatakan ini, frozen Bromo ini bukan fenomena. Setiap tahun pasti, akibat cuaca panas cerah pada siang hari, dan di malam harinya akan terjadi turun embun es tersebut. Suhu di kawasan Bromo juga jauh terasa lebih dingin dibanding musim (hujan) sebelumnya.

”Kondisi sekarang masih tipis embun saljunya. Diprediksi puncak cuaca ekstrem ini terjadi pada bulan Juli-Agustus,” katanya dengan singkat. (Bambang)

Komentar

News Feed