AGROBISNISEKONOMIHEADLINENEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPEMKAB SUMENEPREGIONALSUMENEP

Kemiskinan Di Sumenep: Bupati Kaya, Rakyat Menderita

3326
×

Kemiskinan Di Sumenep: Bupati Kaya, Rakyat Menderita

Sebarkan artikel ini
Kemiskinan Di Sumenep: Bupati Kaya, Rakyat Menderita
Kemiskinan Di Sumenep: Bupati Kaya, Rakyat Menderita

News Satu, Sumenep, Kamis 23 Mei 2024- Kondisi kemiskinan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, semakin memprihatinkan. Rakyat hidup dalam kesulitan, sementara bupati mereka, Achmad Fauzi Wongsojudo, tercatat sebagai pejabat terkaya di Madura.

Koordinator BEM Sumenep (BEMSU), Moh. Sauqi, mengungkapkan kemarahan atas ketimpangan yang mencolok antara kekayaan pribadi bupati dan kondisi kemiskinan masyarakat Sumenep.

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Sumenep mencapai 206.100 jiwa atau sekitar 18,70% dari total populasi, menempatkan Sumenep pada peringkat ketiga tertinggi di Jawa Timur.

“Kabupaten Sumenep menduduki peringkat ketiga dalam jumlah penduduk miskin di Jawa Timur, tetapi Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, memiliki kekayaan lebih dari Rp18 miliar. Ini adalah ketidakadilan yang mencolok!” tegas Sauqi, Kamis (23/5/2024).

Aktivis PMII Sumenep ini, menilai kekayaan Bupati Fauzi sebagai ironi di tengah penderitaan masyarakat. Bupati Fauzi, dengan harta kekayaan sebesar Rp18.230.861.310, tercatat sebagai bupati terkaya di Madura. Sementara rakyatnya berjuang untuk sekadar bertahan hidup, bupati mereka hidup dalam kemewahan.

“Rincian kekayaan Bupati Fauzi meliputi tanah dan bangunan senilai Rp15.872.450.000, alat transportasi dan mesin Rp1.784.500.000, harta bergerak lainnya Rp339.000.000, serta kas dan setara kas Rp234.911.310. Sementara rakyatnya? Mereka hidup dalam kemiskinan yang parah!” ujar Sauqi dengan nada tinggi.

BEM Sumenep menuntut agar Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo segera turun langsung ke lapangan dan melihat kondisi nyata masyarakat. Mereka mengkritik Bupati yang hanya duduk di kantor dan menerima laporan tanpa melihat penderitaan rakyatnya.

“Pak Bupati, berhentilah menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat. Turunlah ke lapangan, lihat kondisi rakyatmu yang kelaparan dan tidak bisa keluar dari belenggu kemiskinan,” seru Sauqi dengan lantang.

Bahkan, Sauqi menyoroti kasus dua nenek, Hotipah (64) dan Putriya (70), dari Desa Brakas Dajah, Kecamatan Guluk-guluk, yang hidup tanpa menerima bantuan apapun dari pemerintah. Kasus ini menjadi simbol kegagalan pemerintah daerah dalam menangani kemiskinan.

“Kasus dua nenek ini adalah bukti nyata. Setelah viral, baru pemerintah bergerak. Selama ini kemana saja, Pak Bupati? Ini adalah tamparan keras bagi pemerintah daerah!” kata Sauqi dengan marah.

Data menunjukkan bahwa Kabupaten Sumenep bersama dua kabupaten lainnya di Madura, yaitu Sampang dan Bangkalan, menduduki posisi tertinggi dalam jumlah penduduk miskin di Jawa Timur. Kabupaten Sampang di peringkat pertama dengan 221.710 penduduk miskin (21,76%), diikuti oleh Kabupaten Bangkalan dengan 196.660 penduduk miskin (19,35%), dan Kabupaten Sumenep dengan 206.100 penduduk miskin (18,70%).

Saqi berharap bahwa aksi demonstrasi kemarin, dapat menggugah hati nurani Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk segera mengambil tindakan nyata. Mereka menekankan bahwa sudah saatnya pemerintah daerah bertindak tegas dan bekerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

“Kami tidak akan berhenti berjuang sampai pemerintah daerah benar-benar menunjukkan kepedulian dan melakukan tindakan nyata untuk mengentaskan kemiskinan di Sumenep!” tutup Sauqi dengan tegas. (Roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.