AGROBISNISEKONOMIHEADLINENEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPEMKAB SUMENEPREGIONALSUMENEP

Kemiskinan Sumenep, Panggilan Tidak Terjawab Bagi Zainollah Dan Noer Hasanah

1857
×

Kemiskinan Sumenep, Panggilan Tidak Terjawab Bagi Zainollah Dan Noer Hasanah

Sebarkan artikel ini
Kemiskinan Sumenep, Panggilan Tidak Terjawab Bagi Zainollah Dan Noer Hasanah
Kemiskinan Sumenep, Panggilan Tidak Terjawab Bagi Zainollah Dan Noer Hasanah

News Satu, Sumenep, Selasa 21 Mei 2024- Cerita kelam keluarga Zainollah dan Noer Hasanah, pasangan dari Dusun Tonodung Laok, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjadi sorotan dalam laporan khusus dari News Satu hari ini, Selasa (21/5/2024).

Mereka bukan hanya gambaran perjuangan, tapi juga cerminan kekecewaan mendalam akan ketidakpedulian pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, terhadap nasib rakyatnya sendiri.

Dalam sebuah rumah gedek berukuran 4×6 meter, mereka berempat – Zainollah, Noer Hasanah, dan kedua anak mereka, Faza Finassoleh dan Muhammad Hafizh Alif Syahrizqi – berbagi ruang yang terbatas.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat berteduh, kini menjadi ruang tidur dan dapur. Di sini, mereka merasakan beban hidup sehari-hari dengan intensitas yang tak tertahankan.

Meskipun hidup dalam kemiskinan yang mendalam, Zainollah dan Noer Hasanah menyampaikan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan bantuan sosial apa pun dari pemerintah, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Saya tidak pernah mendapatkan bantuan apapun, baik PKH maupun BLT,” ujar Zainollah dengan nada kecewa, Selasa (21/5/2024) seperti dilansir dari nusantaranews.co.

Keterabaikan ini, semakin terasa saat Noer Hasanah harus menjalani operasi melahirkan anak kedua mereka, dimana mereka terpaksa harus mengeluarkan dana mandiri dan berhutang kepada tetangga.

“Ya, mau gimana lagi mas, saya harus tetap berjuang dengan penuh harapan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” tandasnya

Kisah pilu ini menjadi cerminan pahit dari kemiskinan yang menghantui Kabupaten Sumenep. Di tengah keadaan yang tak mengizinkan, mereka masih memelihara semangat dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Namun, harapan mereka tetap tidak terjawab dan terabaikan oleh Pemerintah, khususnya Pemkab Sumenep. Dalam situasi yang memilukan ini, suara mereka menjadi panggilan tegas bagi pemerintah, khusunya Pemkab Sumenep untuk bertindak nyata dalam mengatasi kemiskinan di daerah pedesaan.

“Kami berharap, dengan penuh kepedulian, pemerintah akan mendengar dan bertindak demi keadilan bagi keluarga kami yang membutuhkan,” imbuhnya.  (Robet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.