ACHMAD FAUZI WONGSOJUDOAGROBISNISBUPATI FAUZIEKONOMIHEADLINENEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPEMKAB SUMENEPREGIONALSUMENEP

Potret Kemiskinan Dan Harapan Yang Pupus, Pasutri Di Sumenep Hidup Di Gubuk Reot

3148
×

Potret Kemiskinan Dan Harapan Yang Pupus, Pasutri Di Sumenep Hidup Di Gubuk Reot

Sebarkan artikel ini
Potret Kemiskinan Dan Harapan Yang Pupus, Pasutri Di Sumenep Hidup Di Gubuk Reot
Potret Kemiskinan Dan Harapan Yang Pupus, Pasutri Di Sumenep Hidup Di Gubuk Reot

News Satu, Sumenep, Jumat 17 Mei 2024- Di balik indahnya potret Sumenep sebagai daerah yang kaya Sumber Daya Alam (SDA) dan seorang Bupati yang memiliki kekayaan Rp 18 Miliar, ternyata tersimpan kisah memilukan dari pasangan suami istri (pasutri) Sulaiha dan Fauzan.

Pasutri asal Dusun Brekas Daja RT/RW 003/007, Desa Guluk Guluk, Kecamatan Guluk Guluk, Sumenep ini, hidup dalam kemiskinan dengan menempati sebuah gubuk reot, setelah rumah mereka roboh akibat hujan lebat dua tahun silam.

Dua tahun yang lalu, hujan lebat mengguyur wilayah Guluk Guluk dengan intensitas yang luar biasa. Akibatnya, rumah Sulaiha dan Fauzan, yang hanya terbuat dari bahan-bahan sederhana, tidak mampu menahan gempuran air dan akhirnya roboh.

Sejak saat itu, pasangan ini terpaksa tinggal di gubuk reot yang terbuat dari bambu, dengan segala keterbatasan yang ada.

“Saat hujan lebat, terkadang saya tidur di dapur yang menyatu dengan kandang ternak, karena saya takut gubuk yang saya tempati roboh kembali,” ujar Sulaiha dengan nada sedih, Jumat (17/5/2024).

Setelah rumah mereka hancur, Sulaiha menceritakan bahwa ada seseorang yang datang untuk mengambil gambar rumah mereka. Orang tersebut berjanji akan mengurus bantuan renovasi rumah, namun hingga kini, bantuan yang dijanjikan tak kunjung tiba.

“Untung saat rumahku roboh, saya dan suami bisa menyelamatkan diri,” kenang Sulaiha dengan suara lirih.

Meski selamat dari bencana, pasangan ini harus menghadapi kenyataan pahit dengan hidup dalam kemiskinan tanpa tempat tinggal yang layak.

Setelah kejadian tersebut, Sulaiha dan Fauzan sempat menerima bantuan berupa beras dan uang. Namun, bantuan itu hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk membangun kembali rumah mereka yang hancur.

Kini, mereka tidak lagi menerima bantuan apapun dan harus bergantung pada bantuan dari tetangga dan kerabat yang juga terbatas.

“Dulu kami menerima bantuan berupa uang dan beras, tapi sekarang tidak menerima lagi,” tambah Sulaiha.

Kisah Sulaiha dan Fauzan bukan hanya potret dari kemiskinan yang dialami oleh beberapa warga di Sumenep, tetapi juga cerminan dari kegagalan sistem dalam memberikan bantuan yang berkelanjutan bagi mereka yang membutuhkan.

Janji bantuan yang tidak terealisasi menambah beban psikologis dan ekonomi bagi mereka yang sudah berada dalam kondisi sulit. Sulaiha dan Fauzan kini berharap ada perhatian dan bantuan dari pihak terkait, baik pemerintah maupun organisasi non-pemerintah, untuk membantu mereka keluar dari kondisi sulit ini.

“Kami berharap bisa membangun kembali rumah yang layak untuk ditinggali dan menjalani hidup dengan lebih baik,” pungkasnya.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak, tetrutama Pemkab Sumenep, dibawah Kepemimpinan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. Dalam hal ini, Pemerintah daerah perlu lebih responsif terhadap kondisi warganya yang berada dalam kemiskinan ekstrem.

Selain itu, organisasi kemanusiaan dan para dermawan dapat berperan aktif dalam memberikan bantuan yang berkelanjutan, bukan hanya sekadar bantuan sementara yang tidak menyelesaikan masalah.

Kisah Sulaiha dan Fauzan adalah panggilan untuk bertindak, agar tidak ada lagi warga yang harus hidup dalam ketidakpastian dan ketidaklayakan akibat bencana dan kemiskinan. Dengan kolaborasi berbagai pihak, harapan mereka untuk memiliki rumah yang layak dan kehidupan yang lebih baik dapat terwujud. (Roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.