AGROBISNISEKONOMIHEADLINENASIONALNEWSNEWS SATUPEMERINTAHANSURABAYA

Anggota DPD RI Terpilih, Tingginya Biaya Berbisnis Di Indonesia Menjadi Tantangan

790
×

Anggota DPD RI Terpilih, Tingginya Biaya Berbisnis Di Indonesia Menjadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
Anggota DPD RI Terpilih, Tingginya Biaya Berbisnis Di Indonesia Menjadi Tantangan
Anggota DPD RI Terpilih, Tingginya Biaya Berbisnis Di Indonesia Menjadi Tantangan

News Satu, Surabaya, Kamis 4 Juli 20924- Tingginya biaya berbisnis di Indonesia menjadi keluhan utama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN-5 seperti Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, biaya berbisnis di Indonesia dinilai paling tinggi.

Anggota DPD RI terpilih DR. Lia Istifhama mengatakan, keluhan dari APINDO harus segera direspons dengan menyisir setiap pos biaya dan mencari solusi yang tepat.

Menurut Ning Lia sapaan akrab dari DR. Lia Istifahama, keluhan dari pengusaha ini tidak hanya berdampak pada sektor bisnis, tetapi juga memiliki efek domino yang dapat merugikan daerah. Banyak perusahaan yang berinvestasi dan beroperasi di daerah, sehingga jika perusahaan-perusahaan ini memutuskan untuk keluar atau membatalkan rencana investasi, daerah yang akan terkena dampaknya.

“Kalau itu terjadi, relokasi perusahaan atau investasi yang batal akan sangat memukul daerah. Karena keberadaan perusahaan, terutama industri manufaktur padat karya, sangat menolong perekonomian di daerah, terutama dari sisi penyerapan tenaga kerja,” ungkap wanita berparas cantik ini, Kamis (4/7/2024).

Lanjut Ning Lia yang dikenal sebagai Srikandinya Nahdlatul Ulama (NU) Jatim ini, meminta kementerian terkait untuk menyisir semua pos biaya yang disampaikan oleh Apindo. Untuk pos biaya yang sulit diturunkan, seperti ongkos tenaga kerja atau buruh, harus dikompensasi dari pos lainnya agar total biaya doing business di Indonesia tetap kompetitif.

“Upah buruh di Indonesia sudah menggunakan minimum living cost. Oleh karena itu, living cost harus dipastikan tidak terus naik atau bahkan turun. Kawasan industri di negara seperti Singapura dan China sudah membangun rusun untuk buruh dan menyediakan shuttle bus gratis, sehingga living cost buruh bisa rendah,” ujar Ning Lia keponakan dari Khofifah Indar Parawansa ini.

Meskipun Bappenas mengklaim bahwa biaya logistik Indonesia telah turun menjadi 14% dari PDB, indeks kinerja logistik (LPI) 2023 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat 61 dari 139 negara dengan skor 3. Negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand mendapatkan skor masing-masing 3,6 dan 3,5, sedangkan Vietnam dan Filipina masing-masing mendapatkan skor 3,3.

Indonesia juga menjadi yang paling kompetitif dalam hal biaya ekspor, hanya sebesar US$211, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk mengekspor mencapai 56 jam, lebih lama dibandingkan dengan rata-rata 45 jam di ASEAN-5.

“Waktu impor di Indonesia sekitar 106 jam, hampir dua kali lipat dari waktu rata-rata di ASEAN-5 sebesar 58 jam, dengan biaya impor mencapai US$164 dibandingkan rata-rata US$104 di ASEAN-5,” tandasnya.

Oleh karena itu, Ning Lia Respon cepat dan tindakan konkret dari pemerintah sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi dan mendukung keberlanjutan perusahaan yang beroperasi di negara ini.

“Langkah-langkah seperti penyediaan infrastruktur yang memadai, reformasi regulasi, serta dukungan fasilitas bagi tenaga kerja menjadi beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan,” tukasnya.

Dengan adanya upaya yang terkoordinasi antara pemerintah dan sektor swasta, diharapkan Indonesia dapat menurunkan biaya berbisnis dan meningkatkan daya saingnya di kawasan ASEAN-5.

“Keberhasilan dalam menangani isu ini akan membawa manfaat besar bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan, terutama bagi daerah-daerah yang bergantung pada investasi industri manufaktur padat karya,” tambahnya.

Sementara, Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyampaikan bahwa biaya yang paling tinggi saat berbisnis di Indonesia meliputi logistik, energi, tenaga kerja, dan pinjaman.

“Upah minimum di Indonesia mencapai US$329 per bulan, lebih tinggi dari rata-rata ASEAN-5 sebesar US$302,”  ucapnya.

Ia menambahkan, tingkat suku bunga pinjaman di Indonesia berkisar antara 8-14%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata ASEAN-5 yang berkisar antara 4-6%.

“Biaya logistik perdagangan Indonesia mencapai 23,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 13% dan Singapura 8%,” pungkasnya. (Kiki/*)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.