Pendidikan Al-Qur’an Jadi Sorotan, Senator Ning Lia Apresiasi Komitmen Jawa Timur Perkuat Peran Guru Ngaji dan TPQ

Surabaya, Senin 14 September 2026 | News Satu- Di tengah tantangan era digital dan perubahan sosial yang semakin cepat, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan Indonesia. Karena itu, perhatian terhadap guru ngaji dan lembaga pendidikan Al-Qur’an dinilai menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia bangsa.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang terus memberikan perhatian terhadap pendidikan keagamaan, khususnya keberadaan guru ngaji, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ).

Menurut perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut, pendidikan tidak hanya berbicara soal prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, moral, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi bekal generasi muda menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Perhatian terhadap pendidikan keagamaan merupakan langkah yang sangat penting. Pendidikan karakter dan nilai spiritual memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang berintegritas, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial yang kuat,” ujar Ning Lia saat menerima kunjungan jajaran Dewan Pengurus Wilayah Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) Jawa Timur di Kantor DPD RI Jawa Timur, Surabaya.

Menurutnya, keberadaan guru ngaji selama ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Meski sering bekerja tanpa sorotan publik, peran mereka dinilai sangat strategis dalam membangun fondasi pendidikan moral dan keagamaan sejak usia dini.

“Guru ngaji berada sangat dekat dengan masyarakat. Mereka berkontribusi langsung dalam membentuk karakter anak-anak dan generasi muda. Karena itu, perhatian terhadap mereka merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, jajaran Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) Jawa Timur menyampaikan berbagai aspirasi dan pengalaman lapangan terkait perkembangan pendidikan Al-Qur’an di berbagai daerah.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi penguatan kelembagaan LPQ, peningkatan kualitas pembelajaran Al-Qur’an, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, legalitas lembaga pendidikan melalui izin operasional, hingga peningkatan kesejahteraan dan kompetensi guru ngaji.

Ketua DPW FKPQ Jawa Timur, Abdul Aziz, mengatakan bahwa tantangan pendidikan Al-Qur’an saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

“Kami menyampaikan berbagai masukan dan pengalaman yang kami temui di lapangan. Pendidikan Al-Qur’an membutuhkan penguatan berkelanjutan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Selain penguatan kelembagaan, FKPQ juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas guru TPQ melalui berbagai program pembinaan, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran.

Menurut Aziz, transformasi pendidikan Al-Qur’an perlu dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi kekuatan utama pendidikan keagamaan di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, DPW FKPQ Jawa Timur juga menyerahkan manuskrip program Tahsin-PMPQ kepada Ning Lia untuk mendapatkan masukan dan pandangan pengembangan.

Program tersebut dirancang sebagai upaya peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an bagi para guru TPQ dengan target khatam 30 juz melalui metode pembelajaran yang menekankan aspek tahsin dan pembacaan Al-Qur’an secara bertilawah.

FKPQ berharap program tersebut dapat menjadi salah satu terobosan dalam meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an sekaligus memperkaya metode pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan generasi masa kini.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial, perhatian terhadap pendidikan keagamaan dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan pembangunan manusia. Tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, moral yang baik, dan nilai spiritual yang kokoh.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, guru ngaji, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang berkelanjutan dan mampu menjawab tantangan masa depan Indonesia. (Kiki)