Bupati Salwa, Stunting Jadi Tanggungjawab Pemerintah dan Masyarakat

News Satu, Bondowoso, Selasa 22 Maret 2022- Pemerintah Kabupaten Bondowoso menggelar Rembuk Stunting di Pendapa Bupati, Senin (23/3/2022).

Bupati Bondowoso, Drs. Salwa Arifin, dalam sambutannya mengatakan, penurunan angka stunting ini menjadi program prioritas pemerintah pusat maupun daerah.

“Stunting menjadi tanggung jawab bersama baik aparatur pemerintah maupun masyarakat hingga ke rukun warga,” ujarnya, Selasa (22/3/2022).

Dari Hasil survey SSGI (Studi Status Gizi Indonesia) 2021, kata Bupati Salwa, angka stunting di Bondowoso masih berada di kisaran 37 persen. Ini yang menjadi atensi untuk percepatan penurunan prevalensi stunting di kabupaten Bondowoso secara masif dan terintegrasi.

“Ini memerlukan perhatian kita bersama-sama, kita mempunyai target penurunan stunting sebesar 14 % Tahun 2024, sesuai dengan Perpres Nomor 72 Tahun 2021,” ungkapnya.

Bupati Salwa berharap dengan dilakukannya rembuk stunting tersebut, semua pihak berkomitmen dalam penurunan angka stunting dengan menjadikan gerakan masif baik penyusunan program kerja, sasaran serta langkah konkrit untuk penanggulangan angka stunting di kabupaten Bondowoso.

“Mari kita bekerja di bidang masing-masing untuk melakukan penurunan angka stunting melalui intervensi spesifik demi mewujudkan generasi yang sehat dan cerdas,” ajaknya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, dr. Moh. Imron, mengatakan, dari hasil analisa situasi, kemudian evaluasi pada Tahun 2022, dengan melibatkan opd dan pejabat terkait, berdasarkan SK bupati juga, ada Delapan Kecamatan dan Empat belas desa yang dijadikan lokasi fokus penurunan angka stunting.

Yakni, di Kecamatan Klabang Desa Blimbing, kemudian Kecamatan Grujugan di Desa Dawuhan dan Desa Pekauman, Kecamatan Binakal di Desa Bendelan, Kecamatan Kota Bondowoso di Kelurahan Dabasah, Kecamatan Wonosari di Desa Plalangan, Kecamatan Cermee di Desa Solor dan Desa Cermee, Kecamatan Tenggarang di Desa Dawuhan dan Kasemek, Kecamtan Tanaman di Desa Sumber Anom, Sumber Kemuning dan Kemirian, dan terakhir di Kecamatan Tapen, di Jurang Sapi.

“Itu berdasarkan S.K Bupati yang menjadi fokus pada Tahun 2023,” tuturnya.

Menurut, Imron, tiap tahun lokusnya tidak sama, misal lokusnya tahun ini desa a, belum tentu tahun berikutnya menjadi lokus. indikatornya tidak hanya melihat pada gizi namun ada beberapa indikator lain.

“Bagaimana pola asuhnya selama balita, rumahnya layak huni atau tidak, mempunyai jamban apa tidak, itu semua menjadi faktor,” pungkasnya.(Rokib) 

Komentar