Bullying Dan Game Online Jadi Ancaman Nyata, Anggota DPD RI Soroti Krisis Mental Anak

Jakarta, Sabtu 17 Januari 2026 | News Satu- Maraknya kasus bullying dan kecanduan game online pada anak kembali menjadi perhatian serius publik. Laporan kasus terus bermunculan dari berbagai lingkungan, mulai dari rumah, sekolah, hingga pondok pesantren. Fenomena ini dinilai berbahaya karena berdampak langsung terhadap kesehatan mental, perilaku, dan perkembangan sosial anak.

Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan bahwa perundungan yang terjadi saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Menurutnya, bullying kerap berkaitan erat dengan persoalan lain seperti kecanduan game online, disharmoni keluarga, hingga lemahnya pendidikan karakter sejak usia dini.

“Kasus bullying sekarang tidak lagi sporadis. Justru banyak terjadi di lingkungan terdekat anak, bahkan di tempat yang selama ini dianggap aman seperti rumah dan pesantren,” ujar Lia Istifhama, Sabtu (17/1/2026).

Senator muda yang akrab disapa Ning Lia itu mengungkapkan, meningkatnya berbagai pelanggaran perilaku anak, mulai dari perundungan hingga kasus pencurian kecil, menjadi sinyal bahwa persoalan mental dan karakter anak semakin kompleks.

“Banyak kejadian yang muncul, mulai dari bullying sampai pencurian kecil di rumah maupun pesantren. Ini menunjukkan masalahnya makin meluas dan tidak bisa dianggap enteng,” katanya saat ditemui dalam kunjungan di RS Menur Surabaya.

Ning Lia menilai, pembentukan mental dan karakter anak merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas lembaga pendidikan. Peran orang tua dinilai sangat menentukan dalam mencegah anak menjadi pelaku maupun korban perundungan.

“Mendidik anak harus dua arah. Orang tua harus memastikan anak tidak menjadi pelaku bullying, tetapi juga tidak menjadi korban,” tegasnya.

Lia menambahkan, pencegahan agar anak tidak mudah menjadi sasaran perundungan harus dimulai sejak dini dengan membangun mental yang kuat.

“Anak perlu dibekali keberanian, ketegasan, ketangguhan, dan fokus pada kehidupan nyata. Jangan sampai terlalu larut dalam dunia maya,” jelasnya.

Terkait kecanduan game online, Ning Lia yang juga merupakan keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, fenomena tersebut kini menjadi salah satu pemicu gangguan belajar hingga depresi ringan pada anak dan remaja.

“Banyak gangguan fungsi belajar muncul karena anak lebih tenggelam di dunia virtual dibanding dunia nyata. Ini membuat mereka semakin rentan,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi hadirnya layanan kesehatan mental di Jawa Timur yang dinilai semakin terbuka dan ramah bagi masyarakat. Menurutnya, layanan tersebut memberikan ruang aman bagi keluarga untuk mencari solusi tanpa rasa takut atau stigma.

“Rumah sakit hadir dengan niat membantu, tidak menghakimi. Ini penting karena banyak orang tua sebenarnya kebingungan dan kelelahan, tapi tidak tahu harus meminta bantuan ke mana,” tandasnya.

Selain itu, Ning Lia menyebut biaya layanan psikologis saat ini relatif lebih terjangkau dibanding sebelumnya, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk mengakses bantuan profesional.

“Sekarang biayanya lebih manusiawi dan fasilitasnya semakin lengkap,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya edukasi pra-nikah agar calon orang tua tidak hanya siap secara ekonomi, tetapi juga matang secara mental dalam mengasuh dan membesarkan anak.

“Kesiapan menjadi orang tua itu penting. Kalau ini diperkuat sejak awal, banyak persoalan anak bisa dicegah,” tegasnya.

Ning Lia berharap sinergi antara keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan mental terus diperkuat demi menciptakan generasi anak Indonesia yang sehat mental, tangguh, dan berakhlak baik. (Kiki)