Sampang, Kamis 29 Januari 2026 | News Satu- Dinas Lingkungan Hidup dan Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman (DLH Perkim) Kabupaten Sampang memprioritaskan pengelolaan sampah untuk pelayanan masyarakat dan operasional rutin di tengah keterbatasan anggaran. Sementara itu, pengadaan teknologi modern pengolahan sampah masih membutuhkan pos anggaran khusus serta dukungan penuh dari DPRD.
Kepala Bidang Kebersihan dan Persampahan DLH Perkim Sampang, Aulia Arif, menjelaskan bahwa alokasi anggaran saat ini belum memungkinkan pengadaan teknologi pengelolaan sampah berbasis modern. Pasalnya, sebagian besar anggaran difokuskan untuk memastikan layanan dasar kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
“Sumber anggaran kami saat ini dimaksimalkan untuk pelayanan masyarakat dan operasional. Total anggaran kami sekitar Rp1,8 miliar per tahun,” ujar Aulia Arif, Kamis (29/1/2026).
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, Aulia menyebut sektor persampahan justru telah memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Setiap tahun, PAD dari sektor ini mampu mencapai target sekitar Rp600 juta.
“PAD kami sudah maksimal dan mencapai target, yakni sekitar Rp600 juta per tahun,” jelasnya.
Aulia mengungkapkan bahwa DLH Perkim Sampang sebenarnya telah merencanakan sejumlah inovasi pengelolaan sampah. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama, terlebih dengan adanya pengurangan anggaran pada tahun berjalan.
“Kami tidak punya alat karena terkendala anggaran. Untuk inovasi seperti pengolahan sampah menjadi sumber energi listrik seperti di Surabaya, nilai investasinya bisa mencapai triliunan rupiah,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari upaya mencari solusi, DLH Perkim Sampang melakukan kunjungan ke Kabupaten Pasuruan untuk mempelajari penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni metode pengolahan sampah—khususnya sampah anorganik menjadi bahan bakar padat alternatif.
“Di Pasuruan kami diperkenalkan langsung dengan teknologi RDF. Namun, harga alatnya juga mahal, mencapai miliaran rupiah,” katanya.
Aulia menambahkan, pihaknya telah menyampaikan kepada DPRD bahwa terdapat beberapa opsi teknologi pengelolaan sampah modern. Di antaranya insinerator, RDF, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA). Namun, masing-masing teknologi membutuhkan investasi besar.
“Kami sudah sampaikan ke DPRD bahwa teknologi pengelolaan sampah itu ada tiga, insinerator, RDF, dan PLTSA. Untuk PLTSA sendiri sangat sulit dijangkau karena biayanya mencapai triliunan,” pungkasnya.
DLH Perkim Sampang berharap adanya dukungan kebijakan dan penganggaran dari DPRD agar inovasi pengelolaan sampah dapat direalisasikan secara bertahap, seiring meningkatnya kebutuhan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (Ahmad)







