Angka Stunting Di OKI Mengalami Penurunan

News Satu, Ogan Komering Ilir, Rabu 10 Mei 2023- Angka Stunting di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel), mengalami penurunan hingga 17 persen. Namun demikian, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) OKI terus berupaya menekan angka stunting tersebut.

Wakil Bupati OKI, H. M. Djafar Shodiq menyampaikan berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 mengatakan OKI telah berhasil menurunkan prevalensi stunting yakni dari 32,2% menurun jadi 15,1% pada 2022. Itu artinya, telah terjadi penurunan signifikan sebesar 17,1 % dan harapnya akan terus menurun prevelansi bahkan bisa mengeleminasi stunting di OKI.

“Terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua penggerak atas upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten OKI yang telah melakukan berbagai upaya dan inovasi program demi mendukung visi dan misi Kabupaten OKI,” katanya, Rabu (10/5/2023).

Baca Juga :  DPRD OKI Usulkan Dja’far Shodiq Jadi Bupati

Ia berharap, semua pihak bisa dapat terus memperkuat sinergitas sehingga Kabupaten bisa konsisten untuk menurunkan prevelensi stunting hingga mampu mencapai target nasional prevalensi angka 14 % di tahun 2024 mendatang.

“saya harap pada tahun 2024 angka stunting di OKI kembali ada penurunan,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), H. M. Lubis, SKM. M.Kes mengatakan stunting disebabkan oleh faktor multidimensi sehingga penanganannya perlu dilakukan oleh Multi sektor.

“Beberapa penyebab stunting bisa bersumber dari praktek pengasuhan yang tidak baik; terbatasnya layanan kesehatan; kurangnya akses ke makanan bergizi; dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi,” jelas Lubis.

Ditambahkan Lubis, ada dua intervensi percepatan penurunan stunting di OKI yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Baca Juga :  Maksimalkan UHC, Kades Dan Perangkat Desa Di OKI Dijamin JKN

“Intervensi spesifik adalah intervensi yang menyasar penyebab langsung terjadinya stunting, semuanya ada di sektor kesehatan. Sedangkan, intervensi sensitif menyasar penyebab tidak langsung terjadinya stunting sebagian besar di luar sektor kesehatan,” imbuhnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumateras Selatan, Mediheryanto, SH,MH dalam rapat koordinasi rembuk stunting di Kabupaten Ogan Komering Ilir mengatakan berdasarkan PERPRES 72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting terdapat 5 pilar utama percepatan penurunan stunting.

Ke 5 pilar tersebut yakni Peningkatkan Komitmen; peningkatakan komunikasi perubahan prilaku dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan kovergensi intervensi spesifik dan sensitive, peningkatan ketahanan pangan & gizi, serta penguatan dan pengembangan sistem data, informasi, riset, dan inovasi.

Lebih lanjut Medi, untuk Kabupaten OKI dengan Jumlah Tim Pendamping Keluarga terbesar kedua Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) diharapkan mampu terus mengakselerasi penurunan stunting hingga mampu mencapai target nasional.

Baca Juga :  Kepala DLH OKI Tinjau Sungai Desa Lingkis Tercemar

“Tim Pendamping Keluarga akan melakukan penyuluhan fasilitasi; pelayanan rujukan; dan fasilitasi penerimaan program bantuan sosial. Dengan tugas ini TPK diharapkan mampu mendeteksi dini faktor resiko stunting (spesifik dan sensitif),” pungkasnya. (Hasan)

Komentar