Aksi Demo Tolak Fattah Jasin Dibendung Kepolisian di DPRD Pamekasan

News Satu, Pamekasan, Senin 28 Maret 2022- Aksi masa yang menolak pencalonan Fattah Jasin sebagai calon nomor 2 kembali bergulir. Kali ini, bertepatan dengan waktu pemilihan pergantian antar waktu wakil Bupati Pamekasan sisa jabatan tahun 2018-2023, pada Senin pagi di Gedung DPRD Pamekasan.

Bahkan, untuk membendung aksi dari Famas (Front Aksi Massal) itu sempat dihalau pihak kepolisian. Yakni dengan melakukan blokade jalan di bilangan jalan Kabupaten dan melakukan aksi cegat masa aksi tepat di depan kantor PT Taspen di Jl kabupaten yang memaksa semua berorasi jauh dari Gedung DPRD Pamekasan yang dituju.

Ironisnya, dalam aksi berjalan kaki dengan teriakan penolakan calon  nomor urut 1 ke gedung DPRD Pamekasan tersebut terbendung. Padahal sejatinya mereka hanya bergerak untuk menyampaikan aspirasi atas penolakan terhadap Fattah Jasin untuk menjadi wakil Bupati Pamekasan hingga 2023.

Nah, aksi penolakan dari sejumlah warga asal Pamekasan yang tergabung dalam organisasi Dear Jatim dan Famas karena Fattah Jasin berdasarkan banyak hal. Diantaranya, dia dinilai politisi yang gagal sebagai calon Bupati di kabupaten Sumenep pada tahun 2020 lalu. Serta tak ini Bumi Gerbang Salam sebagai tempat limbah politisi gagal dibalik banyaknya potensi warga yang lebih memumpuni untuk jadi Wabup terpilih nantinya.

Ketua Dear Jatim, A Faisol mengatakan pihaknya hanya hendak menyampaikan aspirasi pada segenap anggota DPRD kabupaten Pamekasan. Tetapi malah dicegat DNA ditekan secara represif oleh kepolisian setempat dengan alasan yang tidak konstitusional dan sudah ada keterwakilan anggota DPRD Pamekasan di dalam.

“Awalnya kami di cegat di depan sekolah SMK Negeri 3 Pamekasan. Namun kami akan tetap menyuarakan aspirasi masyarakat tentang semua tuntutan DNA penolakan Fattah Jasin di Pamekasan,” katanya, Senin (28/3/2022).

Selanjutnya, setelah pihak perwakilan masa aksi mendesak aparat kepolisian untuk melakukan negosiasi, agenda aksi semakin ricuh. Padahal semua hanya terkait dengan permintaan komunikasi dengan legislatif dan eksekutif, bahkan kepada seluruh partai pengusung agar menemui masa aksi untuk menyampaikan aspirasi atas penolakan Fattah Jasin menjadi wakil Bupati Pamekasan.

“Kami menduga pihak kepolisian mencegat karena mereka sudah di kasih uang, dan ini kami nilai sebuah pemerkosaan terhadap rakyat yang hendak menyampaikan aspirasi,” tuturnya.

Sekedar diketahui, setelah alotnya negosiasi dan komunikasi antara massa aksi dengan pihak kepolisian yang tidak temukan jalan keluar. Secara diam-diam beberapa perwakilan aksi menerobos masuk ke ruang gedung DPRD Pamekasan dengan membawa pamflet dan teriakan pada anggota DPRD agar memakai hati nurani dalam memilih Wabup terpilih nantinya.

Bahkan, menurut pantauan media, Faisol salah satu yang berhasil menerobos pintu masuk, nyaris kena jotos aparat kepolisian yang berjaga di dekat pintu masuk belakang lantai 1 gedung DPRD Pamekasan. Meski sebelumnya sempat didorong dan dipaksa keluar secara kasar oleh salah satu petinggi polres setempat kala itu.(Yudi)

Komentar