Kisah Songkok Batik Khas Pamekasan yang Tembus Pasar Nasional 

News Satu, Pamekasan, Kamis 21 Juli 2022- Adalah seorang Imam Syafi’e (30) warga Desa Rek Kerek Kecamatan Palengaan, yang selama ini berjibaku untuk berkarya sebuah Songkok Batik Khas Pamekasan selama program wirausaha baru digeber kabupaten Pamekasan Jawa timur. Pemuda kreatif tersebut mampu membangun usaha songkok batik dan bisa memikat hati pasar nasional.

Nah, tentu semua dilakukan dengan tidak lepas dari kualitas produksinya yang bagus. Serta kreatifitas produk yang terus dilakukan agar menarik para calon pembeli di luar Madura.

Imam Syafi’e kisahkan, sebelum mengikuti pelatihan WUB dirinya memang mempunya dasar kemampuan menjahit. Tetapi kemudian mendapat kesempatan ikut pelatihan usaha gagasan Bupati Baddrut Tamam selama 15 hari utusan Pemerintah Desa (Pemdes) Rek Kerek kecamatan Palengaan.

“Saya sebenarnya lambat ikut pelatihan WUB, awalnya teman saya yang ikut pelatihan, tetapi berhenti dan digantikan saya. Selama pelatihan itu diajari menjahit membuat songkok dan lain-lain,” terangnya dilaman resmi Pemkab setempat.

Dari berbagai kesempatan itu, pihaknya bersyukur, usaha yang dijalani berkat pelatihan WUB tersebut terus berkembang. Bahkan pesanan tidak hanya dari wilayah Pamekasan dan Madura. Melainkan telah berhasil menjamur pasar Kalimantan, Jember dan Bandung.

Tentu, penjualan yang menyasar pasar luar Madura itu tidak lepas dari strategi marketing yang juga dibantu oleh badan usaha milik desa (BUMDes). Sehingga upaya besar yang dilakukan secara simultan oleh para pengrajin dan pemerintah daerah setempat berjalan selaras dan cepat buahkan hasil positif.

Tak ayal, jika usahanya saat ini telah mampu merekrut lima tenaga kerja dari Desa Rek Kerek sendiri. Itu meliputi satu pekerja dari Dusun Salatreh, dua orang dari Dusun Masaran, satu orang dari Dusun Rek Kerek Laok, serta satu pekerja dari Dusun Nong Tangis.

“Setiap hari kami maksimal mampu memproduksi 20 songkok, karena keterbatasan alat. Saya bersyukur sekali dengan adanya pelatihan ini. Sehingga kami bisa membuat songkok batik,” tukasnya.

Buktinya, songkok batik yang diberi nama ‘sejahtera’ tersebut memanfaatkan batik dari Desa Rek Kerek, yaitu batik Nong Tangis. Karena batik jenis ini mulai punah dan tidak banyak orang tahu.

Dia berharap, adanya usaha songkok batik memiliki dampak ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat Desa Rek Kerek sesuai dengan tujuan Bupati Baddrut Tamam merancang program WUB.

“Saya mengajak kepada anak-anak muda agar mencintai produk sendiri, utamanya batik yang telah banyak ditinggalkan oleh kalangan anak muda,” tuturnya.(Yudi)

Komentar