Aktivis Pusaka, Antara Etika Keris Dan Tugu Keris Sumenep

News Satu, Sumenep, Rabu 17 April 2024- Pembangunan tugu keris di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang dianggarkan Rp 2,5 miliar, terus menjadi kontroversi di masyarakat.

Aktivis Pusat Kajian dan Analisis Kebijakan Daerah (Pusaka) Sumenep, Muhsin mengatakan, dirinya terus melakukan kajian terkait dengan kontroversi pembangunan tugu keris sepanjang 9 meter dengan berat 5 ton tersebut. Jika dilihat niat awal dari Pemkab Sumenep itu bagus, yakni untuk menghargai atau menghormati para empu atau pengrajin keris di Sumenep.

Namun, yang menjadi pertanyaan besar, kenapa terjadi kontroversi dalam pembangunan tugu keris tersebut. Apakah, karena ada dugaan Kolusi atau lain sebagainya, dalam pengelolaan anggaran tugu keris yang dinilai fantastis tersebut, atau ada yang salah dalam etika dunia pekerisan?.

“Saya terus melakukan kajian, apa sebenarnya penyebab dari kontroversi dalam pembangunan tugu keris ini, apakah ada rebutan pekerjaan yang anggarannya Rp 2,5 miliar, atau mungkin ada faktor lain, bisa seperti etika dalam dunia pekerisan maupun faktor lainnya,” kata Muhsin, Rabu (17/4/2024).

Sebelum masuk ke persoalan pembangunan tugu keris yang terletak di perbatasan Sumenep-Pamekasan, atau tepatnya di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan. Dirinya ingin, mengulas bagaimana Sumenep menobatkan diri sebagai Kota Keris, sehingga ada inisiatif Pemkab Sumenep untuk membuat tugu keris raksasa?.

Setelah dilakukan kajian dan membaca berita, ternyata pada tanggal 9 November 2016, Bupati Sumenep, yang pada waktu itu KH. A. Busyro Karim, mendeklarasikan bahwa Sumenep adalah Kota Keris.

Yang mendasari deklarasi tersebut, ternyata di Kabupaten Sumenep, ada sekitar 862 pengarajin di 17 Desa yang tersebar di 3 Kecamatan, yakni Kecamatan Bluto, Kecamatan Saronggi, dan Kecamatan Lenteng yang hingga saat ini masih eksis dalam membuat keris.

“Saya baca di beberapa media, ternyata itu cikal bakal dari Sumenep menjadi Kota Keris. Pendataan terhadap para empu atau pengrajin keris tersebut dilakukan oleh paguyuban bersama Disbudparpora Sumenep,” tandasnya.

Berkat dari perjuangan para empu atau pengrajin keris dan paguyuban yang terus eksis sampai hari ini dalam membuat keris, sehingga menobatkan diri sebagai Sumenep sebagai Kota Keris. Bahkan, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mendapatkan Anugerah Figur Akselerator Pembangunan, kategori Tokoh Pengembang Warisan Budaya karena upayanya mengenalkan Sumenep sebagai Kota Keris.

“Dengan jasa para empu atau pengrajin keris, Bupati Sumenep mendapatkan anugerah atau penghargaan tersebut. Jadi tanpa empu atau pengrajin keris, Bupati tidak akan pernah mendapatkan anugerah tersebut,” ujarnya.

Komentar