HEADLINENEWSNEWS SATUPEMERINTAHANREGIONALSUMENEP

Kontroversi Pembangunan Tugu Keris Sumenep Rp 2,1 Miliar Dari CSR KKKS

3809
×

Kontroversi Pembangunan Tugu Keris Sumenep Rp 2,1 Miliar Dari CSR KKKS

Sebarkan artikel ini
Kontroversi Pembangunan Tugu Keris Sumenep Rp 2,1 Miliar Dari CSR KKKS
Kontroversi Pembangunan Tugu Keris Sumenep Rp 2,1 Miliar Dari CSR KKKS

News Satu, Sumenep, Kamis 25 April 2024- Kontroversi Pembangunan tugu keris di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, terus menjadi perdebatan di masyarakat.

Sebaba, anggaran tugu keris tersebut bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp2,1 miliar dari Kontraktor Kontrak Kerjasama Sumenep (KKKS), yakni dari tiga perusahaan KKKS yang terlibat, yaitu Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), Medco Energy, dan Kangean Energy Indonesia (KEI).

Perdebatan mulai dari para empu atau pengrajin keris dan paguyuban yang merasa tidak dilibatkan dalam pembangunan tugu keris tersebut. Bahkan, anggota DPRD Sumenep juga angkat bicara agar masyarakat mengawasi pembangunan dan penggunaan anggaran CSR tersebut.

Fathorrahman salah seorang empu atau pengrajin keris di Desa Palongan, Kecamatan Bluto, Sumenep mengatakan, berbicara tentang Sumenep Kota Keris, itu berawal dari pada tanggal 9 November 2014, Pemkab Sumenep menobatkan diri sebagai Kota Keris, dengan alasan banyaknya empu atau pengrajin keris yang tetap eksis sampai saat ini.

“Pada waktu itu, Bupati Sumenep, KH. A Busyro Karim mendeklarasikan, Sumenep Kota Keris setelah dilakukan pendataan terhadap para empu atau pengrajin keris yang ternyata jumlah terbanyak se Indonesia,” katanya, Kamis (25/4/2024).

Selanjutnya, pada Pemerintahan KH. A Busyro Karim, promosi Sumenep Kota Keris terus dilakukan, sehingga, pada saat ini Sumenep benar-benar dikenal sebagai Kota Keris. Bahkan, berbagai penghargaan diterima Pemerintah Daerah yang tidak lain merupakan jasa para empu atau pengrajin keris dan paguyuban yang terus eksis mempertahankan budaya leluhur.

“Alhamdulillah, ini merupakan kebanggaan bagi kami sebagai empu atau pengrajin keris, dimana Sumenep dikenal sebagai Kota Keris. Bahkan, keahlian keris para empu atau pengrajin keris tidak hanya dikenal di Indonesia saja, melainkan sampai ke luar negeri,” tandasnya.

Sementara, masuk pada kontroversi pembangunan tugu keris yang anggarannya Rp 2,1 miliar dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp2,1 miliar dari Kontraktor Kontrak Kerjasama Sumenep (KKKS).

Kurniadi seorang kolektor keris di Sumenep mengatakan, seharusnya dengan jasa para empu atau pengrajin keris tersebut, Pemkab Sumenep harus melibatkan. Sehingga, kesan yang niat awalnya untuk menghargai para empu atau pengrajin keris, bukan malah sebaliknya.

“Mereka itu dilibatkan dalam rencana pembangunan hingga pelaksanaan dari pembangunan tugu keris tersebut. Namun faktanya, peletakan batu pertama saja, para empu yang sudah besar jasanya dalam menjadikan Sumenep Kota Keris, malah tidak diundang,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.