BUDAYAHEADLINENEWSREGIONALSUMENEP

Ritual Penjamasan Pusaka Keraton Di Mulai Dari Pengembilan Air Taman Sare

291
×

Ritual Penjamasan Pusaka Keraton Di Mulai Dari Pengembilan Air Taman Sare

Sebarkan artikel ini
Ritual Penjamasan Pusaka Keraton Di Mulai Dari Pengembilan Air Taman Sare
Ritual Penjamasan Pusaka Keraton Di Mulai Dari Pengembilan Air Taman Sare

News Satu, Sumenep, Selasa 3 September 2019- Perkumpulan pelestari budaya Pelar Agung Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi akan menggelar Prosesi dari Haul Akbar dan Ritual Penjamasan Pusaka Leluhur Keraton Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Jamasan atau siraman berasal dari bahasa jawa yang artinya memandikan atau membersihkan. Jamasan pusaka merupakan ritual yang masih dinilai sakral oleh sebagian besar masyarakat. Jamasan dilaksanakan dalam rangka membersihkan benda-benda pusaka dari kotoran-kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun kotoran yang tidak berwujud.

Keraton Sumenep dan Desa Aeng Tongtong memiliki berbagai jenis keris peninggalan leluhur. Keris-keris tersebut dianggap sebagai pusaka berdasarkan asal usul atau perannya dalam suatu peristiwa bersejarah. Setiap bulan Suro atau bulan Muharram, masyarakat adat desa Aeng Tongtong melaksanakan ritual jamasan.

“Ini bentuk rasa terima kasih dan penghargaan terhadap peninggalan benda bersejarah dari sesepuh,” kata Wawan Noviyanto, Ketua Panitia, Selasa (3/9/2019).

Ritual jamasan ini diawali dengan pengambilan air dari 7 sumber atau sumur yang berbeda. Pengambilan air pertama dilakukan di Taman Sare, Keraton Sumenep. Dengan membawa bubur 5 warna, para sesepuh Aeng Tongtong melakukan ritual membakar kemenyan serta menaburkan kembang di sekitar sumber. Setelah pengambilan air dari Taman Sare, dilanjutkan pengambilan dari lokasi lain selama 7 hari.

Pada malam kedelapan, keris pusaka akan diarak keliling desa sebelum disemayamkan di Buju’ (makam) Agung. Tembang mocopat dinyanyikan sepanjang arak-arakan tersebut. Tepat pukul 00:00 digelar do’a bersama (istighotsah) dilanjutkan sholat subuh berjamaah di Buju’ Agung.

Puncak acara adalah hari Minggu (8/9/2019), dimana para sesepuh desa membacakan mantra-mantra atau do’a keselamatan dilanjutkan prosesi menjamas atau memandikan pusaka. Air untuk memandikan pusaka tersebut juga ditambahkan kembang 7 rupa. Setelah ritual di Buju’ Agung selesai, keris pusaka dikirab menuju Buju’ Dua’, dimana masyarakat Desa Aeng Tongtong meyakini disitulah pangeran Bukabu disemayamkan. Pangeran Bukabu merupakan orang pertama yang tinggal di Desa Aeng Tongtong dan yang mengajarkan seni pembuatan keris kepada masyarakat Desa Aeng Tongtong.

“Penjamasan Pusaka Keraton juga bertujuan untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal, terutama di bidang perkerisan,” tutupnya. (Nay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.