HEADLINEHUKRIMKRIMINALNASIONALNEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPOLITIKPOLITISISURABAYA

Dua Pekan Akun Google Diretas, Pesan Emosional Lia Istifhama Untuk Hacker Menyentuh Hati

1029
×

Dua Pekan Akun Google Diretas, Pesan Emosional Lia Istifhama Untuk Hacker Menyentuh Hati

Sebarkan artikel ini
Dua Pekan Akun Google Diretas, Pesan Emosional Lia Istifhama Untuk Hacker Menyentuh Hati
Dua Pekan Akun Google Diretas, Pesan Emosional Lia Istifhama Untuk Hacker Menyentuh Hati

News Satu, Surabaya, Sabtu 6 Juli 2024- Lia Istifhama, politisi cantik dan aktivis sosial, mengalami peretasan akun Google selama dua pekan terakhir. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional (PDN) pada 20 Juni 2024. Meski PDN telah menerima kunci deskripsi dari geng hacker Brain Cipher Ransomware, Lia belum berhasil memulihkan akunnya.

“Hingga kini, terhitung dua pekan, akun google belum bisa pulih. Laporan via email maupun ke kantor google resmi Indonesia juga nihil hasilnya. Yang ada justru channel youtube masih saja digunakan posting oleh link https://www.donationalerts.com/r/lifeanimal yang beralamat di Belanda, yaitu Prof. J.H. Bavincklaan 7, Amstelveen, 1183 AT, the Netherlands. Sekalipun, channel youtube saat ini menunjukkan posisi di Uni Emirat Arab,” ujar Lia Istifhama yang terpilih sebagai Senator DPD RI asal Jawa Timur (Jatim), Sabtu (6/7/2024).

Lanjut Ning Lia tidak yakin apakah peretasan ini terkait dengan serangan PDN.

“Saya tidak mengalami pemerasan apapun, dan akun Google saya murni perseorangan. Pengolahan Google AdSense dalam channel YouTube juga usaha pribadi tanpa kaitan dengan instansi apapun,” ucap wanita berparas cantik ini, kepada redakis newsatu.com

Menurut keponakan Khofifah Indar Parawansa mantan Gubernu Jatim ini, peretasan ini merupakan salah satu dari banyak serangan cyber yang dialaminya.

“Beberapa akun Gmail yang berafiliasi dengan saya juga berusaha diretas. Ini bukan kali pertama, sebelumnya Wikipedia, Instagram, dan WhatsApp saya juga pernah mengalami cyber crime,” ungkapnya.

Ning Lia yang dikenal sebagai Srikandinya Nahdlatul Ulama (NU) Jatim ini menyatakan, yang paling menyakitkan adalah hilangnya akses ke Google Foto yang menyimpan dokumentasi tumbuh kembang anak-anaknya.

“Banyak kenangan indah yang terlanjur dipercayakan di Google Foto dan tidak bisa diakses lagi,” ungkapnya dengan rasa kecewa.

Meski menghadapi cobaan berat, Ning Lia tetap tegar. Ia menyampaikan pesan bijak dan emosional kepada para hacker, berharap mereka memahami pentingnya dokumentasi pribadi seorang ibu.

“Apapun motif hacker, tidak mungkin ada kepentingan dengan foto pribadi dokumentasi tumbuh kembang anak dari seorang ibu. Terlalu tidak logis, jika hanya ingin mengetahui data pekerjaan atau menguasai akun sosial media seseorang, namun turut menutup akses seorang ibu untuk melihat kembali foto lama anak-anaknya,” tandasnya.

Ning Lia yakin bahwa kenangan indah anak-anaknya akan tetap terjaga meskipun banyak foto tidak bisa mereka lihat lagi.

“Insya Allah, anak-anak saya tetap mengingat setiap kenangan indah yang dilalui mereka, sejak masa kecil hingga remaja. Memori indah tidak sebatas foto, tapi tersimpan di hati mereka yang terdalam,” tambahnya dengan penuh keyakinan.

Sebagai seorang ibu, Lia berharap agar pesan bijaknya bisa menyentuh hati para peretas dan mengembalikan akses ke kenangan berharga yang tersimpan dalam akun Google-nya. Selain itu Doktoral UINSA ini, menyampaikan pesan menyentuh, dan meyakini bahwa anak-anaknya tidak akan kehilangan memori indah sekalipun banyak kenangan indah tidak bisa mereka lihat kelak saat dewasa.

“Insya Allah, anak-anak saya tetap mengingat setiap kenangan indah yang dilalui mereka, sejak masa kecil hingga remaja. Memang ada dokumentasi yang masih tersimpan di gadget, namun begitu banyak yang tersimpannya di google foto. Itu kenapa sampai berlangganan 2 TB. Tujuan saya agar anak-anak kelak bisa melihat semua foto itu saat beranjak dewasa. Namun karena yang ada seperti ini, ya saya hanya bisa meyakini bahwa memori indah tidak sebatas foto, tapi memang tersimpan di hati mereka yang terdalam,” imbuhnya.

“Namun sebagai seorang ibu, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa kita semua memiliki masa lalu dan kehidupan pribadi. Maka buat apa menghilangkan bagian penting dalam kehidupan pribadi seseorang? Jikalau memang alasan politis, saya kira tidak logis dengan kaitan masa lalu anak-anak. Dan jika tidak ada kaitan politis, misalnya random alias saya ini korban acak saja, maka kok serius banget ya sekian bulan tidak terhenti?”, pungkasnya dengan tersenyum. (Kiki/*)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.