HEADLINENASIONALNEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPOLITIKSURABAYA

Indonesia Darurat Hacker,  Anggota DPD RI Terpilih Soroti Pentingnya UU Perlindungan Data Pribadi

1118
×

Indonesia Darurat Hacker,  Anggota DPD RI Terpilih Soroti Pentingnya UU Perlindungan Data Pribadi

Sebarkan artikel ini
Indonesia Darurat Hacker,  Anggota DPD RI Terpilih Soroti Pentingnya RUU Perlindungan Data Pribadi
Indonesia Darurat Hacker,  Anggota DPD RI Terpilih Soroti Pentingnya RUU Perlindungan Data Pribadi

News Satu, Surabaya, Sabtu 29 Juni 2024- Indonesia Darurat Hacker, Istilah itu mungkin yang menjadi trending saat ini. Betapa tidak? Publik digegerkan dengan viralnya peretasan Pusat Data Nasional (PDN) oleh hacker.

Tak tanggung-tanggung, 56 instansi pemerintah pusat pun diretas lewat serangan Ransomware sejak 20 Juni 2024. Namun tahukah anda? Serangan hacker pun bisa dengan mulus menimpa akun pribadi perseorangan, salah satunya akun google Lia Istifhama, anggota DPD RI Terpilih asal Jawa Timur.

Tak ayal, politisi cantik yang selama ini dikenal tegas dan aktif menyuarakan gagasan di tengah publik, menyampaikan secara gamblang bahwa Indonesia memang daurat hacker.

“Saya kira tidak bisa tidak untuk diakui bahwa memang Indonesia daurat hacker. Saya sendiri mengalami peretasan akun google pribadi padahal sudah resmi berlangganan 2 TB per tahun. Tanggal sama persis yang dialami PDN, akun google relawan saat masa kampanye, juga mengalami peretasan” ujar ning Lia (29/6/2024), sapaan akrab keponakan Khofifah yang saat Pemilu 2024, mencapai suara tertinggi nasional kategori senator perempuan non petahana.

Ning Lia pemilik tagline peran ‘CANTIK’ menerangkan bahwa akun youtube yang terakses menjadi satu dengan google, kini memposting postingan spam seperti promosi donasi.

“Akun youtube saya sekarang sudah dijadikan ‘alat jualan’ donasi yang tidak bisa ditanggungjawabkan. Padahal akun yotube tersebut sudah resmi menjadi partner google adsense,” tandasnya.

Keponakan Khofifah Indar Parawansa ini menuturkan bahwa setebal apapun keamanan yang kita lakukan pada akun google, ternyata bisa juga diretas.

“Kesimpulannya jelas ya? Bahwa pengamanan seperti apapun, juga jebol kena bobol. Nah in ikan bahaya? Sedangkan saat ini, semua berbasis digital, bukan data pribadi, tapi juga keuangan. Apalagi jika sekelas PDN juga jadi korban, maka yang kita harus jadi atensi adalah keselamatan keuangan di dunia yang serba e-commerce sekarang,” tukasnya.

Di akhir, mantan Putri NU Surabaya 2005 tersebut bertekad menyuarakan tindakan nyata keamanan data pribadi warga negara Indonesia.

“Saya berharap ketika resmi mengabdi sebagai anggota DPD RI kelak, turut menyuarakan secara tegas peta jalan (roadmap) untuk Keamanan Siber warga negara Indonesia. Pengalaman yang saya alami ini menunjukkan bahwa ini bukan hiperbola ini bukan imajinatif, tapi ini memang terjadi,” lanjutnya

Ning Lia yang dikenal sebagai Srikandinya Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur ini menyatakan, dirinya tidak diam diri saat mengalami kejahatan siber. Bahkan, dirinya sudah langsung ke kantor google Indonesia dan hanya disampaikan bahwa itu kewenangan Google Singapura. Jadi kesannya buntu, karena banyak ahli IT juga geleng-geleng dengan kejadian itu.

“Yang saya alami sangat bisa dialami oleh siapapun, dan bagaimana jika mereka telat menyadari sehingga bukan hanya data yang diretas tapi uang mereka? Sedangkan data maupun akses keuangan yang selama ini perputarannya melalui dunia digital, itu disusunnya kan dengan ikhtiar panjang seseorang. Hasil kerja keras dan google ini kan tempat yang dipercaya untuk menyimpan apapun yang bersifat pribadi. Tapi bisa selemah ini bentengnya,” ucapnya.

Senator terpilih asal Jatim ini menyarankan agar  Undang-Undang (UU) Perlindungan Data Pribadi (PDP). Menurutnya, hal itu bukan hanya sebatas sebuah kebutuhan, melainkan sebuah kewajiban bagi Negara untuk melindungi wargnya.

“Jadi mau tidak mau UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) adalah kebutuhan, bukan sebatas kewajiban. Adanya ketentuan yang jelas mengenai sanksi administrasi atau pidana terhadap pengendali/prosesor data yang lalai dalam mengelola data masyarakat akan menumbuhkan kepercayaan publik bahwa data mereka dijaga dengan baik. Sebaliknya, tanpa ada sanksi, masyarakat bisa apa?”, pungkasnya.

Sebagai tambahan informasi, perempuan ayu itu memang berulang kali jadi santapan cyber crime semenjak ditetapkan sebagai anggota DPD RI Jatim (Jawa Timur). Mulai dari pemblokiran halaman Wikipedia Lia Istifhama dan semua akun Wikipedia yang pernah menulis di halaman tersebut, terblokirnya nomer Whatsapp pribadi, shadow blokir akun Instagram pribadi dan relawan, hingga terkini, akun google pribadi dan relawan. (red/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.