HEADLINENASIONALNEWSNEWS SATUPEMERINTAHANPOLITIKSURABAYA

Lia Istifhama Anggota DPD RI Terpilih, Lima Sila Diksi Moralitas Pondasi Kebangsaan

950
×

Lia Istifhama Anggota DPD RI Terpilih, Lima Sila Diksi Moralitas Pondasi Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Lia Istifhama Anggota DPD RI Terpilih, Lima Sila Diksi Moralitas Pondasi Kebangsaan
Lia Istifhama Anggota DPD RI Terpilih, Lima Sila Diksi Moralitas Pondasi Kebangsaan

News Satu, Surabaya, Sabtu 1 Juni 2024- Memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni, Anggota DPD RI Terpilih Jawa Timur, Lia Istifhama, menyampaikan pandangan mendalam mengenai pentingnya Pancasila sebagai pondasi moral dan kebangsaan.

Dalam acara peringatan yang berlangsung di Surabaya, Lia mengajak seluruh elemen bangsa untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Hari Lahir Pancasila merupakan momentum bagaimana kita generasi bangsa senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Menjadikan persatuan bangsa sebagai kewajiban yang kita pikul selamanya, bahkan sebagai salah satu bagian penguat terwujudnya Indonesia Emas Tahun 2045,” kata Lia Istifhama, yang dikenal dengan berbagai penghargaan atas kiprahnya di bidang sosial dan politik, Sabtu (1/6/2024)

Ning Lia menekankan bahwa setiap sila dalam Pancasila mengandung makna moral yang dalam, yang tidak hanya memperkokoh bangsa, tetapi juga menjadi pengingat nilai-nilai moral bagi setiap individu. Menurutnya, kelima sila Pancasila adalah sebagai berikut:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa : Menekankan pentingnya penghambaan kepada Sang Pencipta dan kebaikan terhadap sesama manusia, mencerminkan fungsi manusia sebagai makhluk religius dan sosial.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Mengajarkan pembentukan mental yang baik sesuai tuntutan agama dan nilai-nilai humanis, memastikan manusia hidup dalam kedamaian, keamanan, dan kenyamanan.
  3. Persatuan Indonesia: Menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan harmonisasi, yang merupakan pondasi untuk menolak disintegrasi bangsa.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Menyelesaikan perselisihan atau perbedaan secara bijak melalui musyawarah untuk menemukan solusi terbaik.
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Menekankan pentingnya sikap adil untuk mencapai rasa bahagia sesama generasi bangsa, membentuk tindakan kebaikan yang saling berbalas.

Ning Lia keponakan Khofifah Indar Parawansa ini, menguraikan bahwa Pancasila bukan hanya lambang kekokohan bangsa dengan lima pilar yang saling mengaitkan dan menguatkan, tetapi juga pengingat nilai-nilai moral bagi seluruh generasi bangsa.

“Dimulai dari sila pertama, adalah asal muasal manusia yang mana diciptakan sebagai khalifah, pemimpin atau penjaga negeri, dengan kewajiban mengaplikasikan ibadah atau penghambaan. Ibadah yang dimaksud bukan hanya bersifat vertikal penghambaan kepada Sang Pencipta, melainkan juga ibadah yang bersifat horizontal berbentuk kebaikan sesama manusia. Ini menunjukkan deduksi kewajiban luhur manusia, yaitu menjalankan fungsi sebagai makhluk religius dan sekaligus makhluk sosial,” jelas Lia.

Ning Lia juga menyinggung tentang kebutuhan manusia akan situasi yang menjamin kedamaian, keamanan, dan kenyamanan. Menurutnya, ketika kesadaran moral dan humanis terpenuhi, langkah berikutnya adalah menjaga persatuan, yang terangkum dalam sila ketiga Pancasila.

“Ketika kita berhasil memenuhi kesadaran diri atas manusia yang bermoral sesuai pondasi agama dan nilai-nilai humanis, maka step berikutnya adalah kesadaran kita atas pentingnya kedamaian, keamanan, dan harmonisasi yang mana itu terangkai dalam sila ketiga, persatuan. Dengan adanya internalisasi atas kewajiban menjaga persatuan, menjadi pondasi menolak disintegrasi bangsa,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan tentang teori siklus sosial dari Ibnu Khaldun, yang menggambarkan bagaimana disintegrasi bangsa bisa terjadi akibat hilangnya persatuan. Lia menekankan pentingnya kesadaran akan persatuan dan kedamaian demi mencegah potret disintegrasi bangsa.

Senator cantik itu juga menyampaikan pentingnya mempertahankan persatuan di tengah berbagai dinamika sosial yang ada. Menurutnya, perselisihan dan perbedaan adalah keniscayaan dalam hubungan manusia, namun harus diselesaikan secara bijak melalui musyawarah.

“Dalam hubungan manusia, menjadi sebuah keniscayaan adanya perselisihan atau perbedaan. Inilah yang harus diselesaikan secara bijak, salah satunya melalui musyawarah menemukan solusi terbaik,” ucapnya.

Diksi terakhir yang disampaikan Lia adalah berjalannya sikap adil kepada sesama, yang akan bermuara pada tercapainya kebahagiaan bersama.

“Adil dan bahagia, tentu dapat terwujud ketika moral kebaikan terbentuk dan dimiliki oleh generasi bangsa, sesuai diksi pertama sila Pancasila hingga sila-sila berikutnya. Dalam hal ini, terbentuk secara nyata tindakan kebaikan yang saling berbalas satu sama lain atau credit slip, yang dalam Islam disebut at-ta’awun,” tuturnya.

Lia mengingatkan bahwa Pancasila bukan hanya untuk kepentingan bangsa, tetapi juga untuk memuliakan diri setiap individu sebagai anak bangsa Indonesia. Dari kesemua sila luhur yang tersistematis secara deduksi tersebut, maka kita pun disadarkan atas diksi kenegaraan yang seyogyanya kita patri dan kita pahami secara utuh sebagai anak bangsa Indonesia.

“Hal ini disebabkan Pancasila seyogyanya bukan semata kepentingan sebuah bangsa, melainkan kepentingan setiap individu untuk memuliakan dirinya sendiri. Jaga Pancasila Untuk Hidup Mulia,” pungkasnya.

Dengan semangat Pancasila, Lia Istifhama berharap seluruh masyarakat Indonesia dapat terus menjaga persatuan dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (Awek/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.