Ning Lia Dan Filosofi CANTIK Yang Menginspirasi Perempuan Indonesia

Surabaya, Jumat 25 September 2026 | News Satu- Nama Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, kembali menjadi perhatian publik. Selain dikenal aktif menyerap aspirasi masyarakat di berbagai daerah, senator muda tersebut juga lekat dengan dua julukan yang terus melekat di tengah masyarakat, yakni “Senator Cantik” dan “Senator Humble.”

Dua sebutan itu tidak muncul tanpa alasan. Julukan tersebut lahir dari kombinasi antara gagasan yang dibawanya sejak sebelum menjadi anggota DPD RI dan cara berinteraksi yang dinilai dekat dengan masyarakat.

Julukan “Cantik” yang melekat pada Ning Lia ternyata bukan semata-mata merujuk pada penampilan. Istilah tersebut berkembang menjadi sebuah konsep yang ia usung selama bertahun-tahun, yakni akronim dari Cerdas, Inovatif, dan Kreatif.

Konsep itu menjadi pesan yang mendorong perempuan untuk berani tampil di ruang publik, mengambil peran strategis, serta berkontribusi melalui kapasitas, gagasan, dan inovasi.

Pengamat politik Mubarok menilai identitas tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Ning Lia sebagai aktivis perempuan hingga akhirnya terpilih menjadi senator.

“Jauh sebelum menjadi senator, identitas tersebut sebenarnya sudah muncul dalam perjalanan Ning Lia sebagai aktivis perempuan. Hingga akhirnya kini menjadi tagline dan sosok Ning Lia yang memang dikenal dekat dengan masyarakat,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).

Sejumlah media juga mencatat bahwa konsep CANTIK telah menjadi bagian dari gagasan yang dibawa Ning Lia saat mengikuti kontestasi DPD RI. Karena itu, sebutan “Senator Cantik” kemudian berkembang menjadi simbol yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar penampilan fisik.

“Cantik bisa dimaknai sebagai Cerdas, Inovatif, dan Kreatif. Jadi bukan soal rupa, tetapi bagaimana cara berpikir, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tandasnya .

Di berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan, sapaan tersebut bahkan sering muncul secara spontan dari warga yang hadir. Tidak sedikit masyarakat yang menilai Ning Lia tidak hanya memiliki citra positif, tetapi juga dikenal ramah dan mudah berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Salah seorang warga Surabaya, Sri Lestari, mengaku mengenal sosok Ning Lia sebagai figur yang murah senyum dan mudah berbaur.

“Beliau ramah, selalu tersenyum dan tidak pernah membuat jarak dengan masyarakat,” tandasnya.

Selain julukan “Cantik”, sebutan “Humble” juga semakin kuat melekat pada diri Ning Lia. Julukan itu muncul dari pengalaman masyarakat yang pernah berinteraksi langsung dengannya dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, maupun pemberdayaan masyarakat.

Karakter tersebut terlihat dari kebiasaannya turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga tanpa sekat formalitas. Dalam sejumlah kegiatan, Ning Lia kerap memilih berinteraksi secara santai, mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung, hingga berbincang dengan kalangan muda dan komunitas akar rumput.

Salah satu momen yang banyak diperbincangkan terjadi saat Ning Lia menghadiri kegiatan masyarakat di kawasan Wonocolo, Surabaya. Dalam kesempatan itu, ia terlihat membaur tanpa protokoler berlebihan, bahkan berjalan tanpa alas kaki ketika berinteraksi dengan warga.

Tokoh masyarakat Wonocolo, H. Muhaimin, menyebut sikap sederhana tersebut menjadi alasan mengapa masyarakat merasa dekat dengan sosok Ning Lia.

“Beliau tidak membuat jarak dengan masyarakat. Cara berkomunikasinya sederhana dan mudah diterima,” katanya.

Kedekatan itu juga terlihat saat Ning Lia menghadiri kegiatan bersama mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, pada September 2026. Pertemuan berlangsung santai dan dialogis, jauh dari kesan formal layaknya forum politik.

Sebelumnya, pada Maret 2026, Ning Lia juga melakukan silaturahmi dengan PC Fatayat NU Kota Surabaya. Dalam forum tersebut, ia berdiskusi mengenai pemberdayaan perempuan dan penguatan peran perempuan dalam pembangunan.

Aktivitas turun langsung ke masyarakat itulah yang kemudian melahirkan istilah khas yang kerap dikaitkan dengan dirinya, yakni “Wani Mudhun Ngisor” atau berani turun ke bawah.

Istilah tersebut menggambarkan pendekatan komunikasi yang menempatkan masyarakat sebagai pusat dialog dan sumber aspirasi.

Sejumlah warga di berbagai daerah di Jawa Timur mengaku sering melihat Ning Lia hadir langsung di tengah masyarakat untuk menyerap berbagai persoalan, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, hingga isu sosial kemasyarakatan lainnya.

“Pernah melihat beliau nyeker saat berjalan bersama warga. Ramah dan biasanya menyapa lebih dulu,” ucap Wiwik Setyowati, warga Gresik.

Bagi banyak kalangan, kombinasi antara gagasan CANTIK (Cerdas, Inovatif, Kreatif) dan pendekatan Wani Mudhun Ngisor menjadi alasan mengapa julukan “Senator Cantik dan Humble” terus melekat pada sosok Ning Lia hingga saat ini. (Kiki)