Surabaya, Rabu 17 Juni 2026 | News Satu- Di tengah ketatnya persaingan masuk SMA dan SMK negeri pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Timur 2026, muncul persoalan terkait perubahan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dialami salah satu calon siswa di Surabaya.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena terjadi saat ribuan peserta masih berjuang memperebutkan kursi sekolah negeri melalui jalur prestasi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, nilai TKA seorang calon siswa sempat tercatat 80 poin. Namun, dalam proses berikutnya nilai tersebut mengalami penyesuaian. Pihak sekolah menjelaskan perubahan itu terjadi akibat kekeliruan saat proses input data.
Hingga saat ini, komunikasi antara orang tua siswa dan pihak sekolah masih berlangsung untuk memastikan data yang digunakan dalam proses seleksi sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Munculnya persoalan tersebut memantik perhatian karena nilai TKA menjadi salah satu komponen penting dalam penentuan kelulusan peserta didik, terutama pada jalur prestasi akademik yang memiliki tingkat persaingan tinggi.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, meminta seluruh pihak terkait bergerak cepat menangani persoalan yang muncul agar tidak berdampak pada hak peserta didik.
Menurutnya, akurasi data merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan sistem seleksi yang adil dan transparan.
“Hasil TKA memiliki keterkaitan langsung dengan penerimaan siswa pada jalur prestasi. Karena itu, apabila ditemukan persoalan data, harus segera dilakukan perbaikan sesuai fakta yang sebenarnya,” ujar Lia, Rabu (17/6/2026).
Ia menegaskan bahwa penyelesaian harus dilakukan sesegera mungkin mengingat pendaftaran SPMB Tahap II jenjang SMA dan SMK akan berakhir pada 18 Juni 2026 pukul 21.00 WIB.
“Kita sedang berpacu dengan waktu. Solusi harus cepat, tepat, objektif, dan transparan agar peserta didik tidak dirugikan serta kepercayaan publik terhadap sistem tetap terjaga,” tegasnya.
Di tengah dinamika tersebut, proses SPMB Jawa Timur terus berjalan. Data Dinas Pendidikan Jawa Timur menunjukkan sebanyak 31.443 calon murid SMA dan 10.506 calon murid SMK telah diterima pada pilihan sekolah pertama.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menjelaskan sistem seleksi jalur domisili tahun ini menggunakan sejumlah indikator penilaian, tidak hanya berdasarkan jarak tempat tinggal.
Nilai gabungan rapor dan TKA menjadi komponen utama dalam penilaian, disertai pertimbangan usia serta waktu pendaftaran apabila terjadi persaingan nilai yang sama.
Menurut Aries, peserta yang belum berhasil lolos pada tahap awal masih memiliki kesempatan mengikuti tahapan berikutnya melalui sejumlah jalur yang tersedia.
“Masih ada Tahap II melalui jalur afirmasi, prestasi hasil lomba, dan mutasi. Selain itu tersedia Tahap III dan Tahap IV melalui jalur prestasi nilai akademik untuk SMA maupun SMK,” jelasnya.
Dinas Pendidikan Jawa Timur juga mencatat masih terdapat kuota yang belum terpenuhi di sejumlah sekolah negeri.
Sebanyak 284 SMA Negeri dan 47 SMK Negeri masih memiliki sisa daya tampung yang akan diisi melalui tahapan pemenuhan kuota berikutnya.
Data tersebut membuka peluang bagi calon peserta didik yang belum memperoleh sekolah pada tahap sebelumnya untuk tetap bersaing mendapatkan kursi di sekolah negeri.
Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya memastikan proses SPMB jenjang SMP Negeri Tahun Ajaran 2026/2027 berjalan sesuai tahapan yang telah ditetapkan.
Saat ini, proses masih berada pada tahap verifikasi dan validasi dokumen calon murid guna memastikan seluruh data yang digunakan dalam seleksi benar dan sesuai ketentuan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai dokumen, mulai dari data kependudukan, jalur afirmasi, mutasi hingga sertifikat prestasi.
“Seluruh data diverifikasi secara detail untuk memastikan proses berjalan objektif, transparan, dan akuntabel,” katanya.
Selain itu, Dinas Pendidikan Surabaya juga mengoptimalkan layanan pendampingan melalui posko SPMB yang tersebar di seluruh SD Negeri, SMP Negeri, dan kantor Dispendik Surabaya.
Di tengah tingginya persaingan masuk sekolah negeri tahun ini, akurasi data dan transparansi sistem menjadi faktor yang mendapat perhatian serius agar seluruh peserta memperoleh kesempatan yang adil sesuai kemampuan dan prestasi masing-masing. (Kiki)






