Skrol untuk membaca pos
229

Indonesia Bidik Penghentian Impor Tepung Telur, Pemerintah Siapkan 3 Pabrik

News Satu
Indonesia Bidik Penghentian Impor Tepung Telur, Pemerintah Siapkan 3 Pabrik
Indonesia Bidik Penghentian Impor Tepung Telur, Pemerintah Siapkan 3 Pabrik

Jakarta, Sabtu 10 Oktober 2026 | News Satu – Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging untuk memperkuat industri peternakan nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap produk impor. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut fasilitas tersebut dirancang menjadi solusi jangka panjang untuk memperluas penyerapan hasil peternakan, menjaga stabilitas harga, dan meningkatkan kesejahteraan peternak.

Rencana pembangunan itu menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun ekosistem peternakan terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku pakan, peningkatan produksi pertanian dan peternakan, hingga pengolahan serta pemasaran hasil produksi.

“Langkah ini ditujukan untuk memperluas pasar hasil produksi peternak, menjaga stabilitas harga, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Amran mengatakan rencana tersebut telah dibicarakan bersama Badan Pengaturan BUMN dan Menteri Perdagangan. Pemerintah menargetkan pembangunan dapat dimulai pada 2027, dengan waktu penyelesaian sekitar 1,5 tahun hingga maksimal dua tahun, bergantung pada kesiapan perencanaan dan pelaksanaan proyek.

“Kami sudah telepon BP BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insya Allah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,” ujar Amran.

Sebelum pembangunan dimulai, pemerintah akan menindaklanjuti rencana tersebut melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS). Kajian ini diperlukan untuk mematangkan kebutuhan investasi, kapasitas pengolahan, dan aspek teknis pembangunan masing-masing fasilitas.

Amran memperkirakan kebutuhan investasi awal mencapai sekitar Rp200 miliar untuk setiap pabrik. Nilainya berpotensi meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang juga mencakup pengolahan daging.

Ia meminta jajaran terkait mengawal tahap persiapan agar perencanaan, anggaran, dan pembangunan dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah juga membuka peluang bagi pihak swasta untuk berkolaborasi dalam pengembangan industri tersebut.

“Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,” kata Amran.

Menurut dia, pembangunan fasilitas pengolahan menjadi langkah mendasar untuk mengatasi persoalan pemasaran yang dapat muncul ketika produksi telur dan daging melimpah. Tanpa saluran penyerapan tambahan, peternak berisiko menghadapi tekanan harga ketika pasokan meningkat sementara permintaan tidak tumbuh seimbang.

“Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,” tegasnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan target pemerintah untuk mengembangkan kapasitas pengolahan dalam negeri sekaligus mengurangi kebutuhan impor tepung telur. Realisasi penghentian impor tetap bergantung pada kesiapan fasilitas, kemampuan produksi, dan pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Pemerintah menargetkan penguatan ekosistem peternakan memberikan manfaat dari hulu hingga hilir. Petani diharapkan memperoleh pasar bagi hasil panen jagung yang menjadi bahan baku pakan, sedangkan peternak membutuhkan pasokan pakan yang terjangkau dan kepastian penyerapan produk.

Di sisi hilir, pabrik pengolahan diharapkan menjadi alternatif ketika produksi telur dan daging ayam melebihi permintaan pasar segar. Pengolahan dapat memperluas pemanfaatan hasil peternakan dan menghasilkan produk yang lebih mudah disimpan serta digunakan untuk kebutuhan industri pangan.

Dengan mekanisme tersebut, peternak diharapkan tidak hanya bergantung pada penjualan telur dan daging segar yang rentan terhadap perubahan permintaan maupun harga.

Amran menilai sistem yang terintegrasi dapat membantu menekan risiko kerugian peternak pada periode tertentu, meningkatkan nilai tambah hasil produksi, dan mengurangi pengeluaran devisa untuk impor.

“Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa peningkatan produksi harus diimbangi dengan ketersediaan bahan baku, kepastian pasar, dan industri pengolahan yang mampu menyerap kelebihan pasokan. Menurutnya, kesejahteraan petani dan peternak tidak cukup hanya ditopang oleh peningkatan volume produksi.

Pemerintah juga ingin memastikan peternak memperoleh pakan dengan harga terjangkau serta memiliki peluang usaha yang lebih berkelanjutan.

Selain membangun fasilitas pengolahan, Amran menyoroti pentingnya memperkuat ketersediaan sumber protein bagi masyarakat, termasuk ikan, ayam, dan telur. Penguatan produksi dalam negeri, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keterjangkauan harga dan memperluas pasar.

“Intinya, bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kita ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat,” ujarnya.

Rencana pembangunan tiga pabrik tersebut diharapkan menjadi bagian dari transformasi peternakan nasional menuju industri yang lebih terintegrasi. Melalui pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran produk bernilai tambah, pemerintah menargetkan pasar domestik semakin kuat dan ketergantungan pada produk impor dapat dikurangi.

Namun, pencapaian target itu akan bergantung pada hasil studi kelayakan, kesiapan investasi, pelaksanaan pembangunan, serta kemampuan fasilitas menyerap produksi peternak secara berkelanjutan.